Minggu, 28 Juli 2024

Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.3

 Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.3

Modul 2.3 sangat berkesan bagi saya. Karena dalam modul 2.3 saya belajar bagaimana menjadi supervisor, coach, dan coachee. Tiga fungsi yang selama saya menjadi pendidik belum pernah saya lakukan. Mungkin saya pernah melakukannya secara tidak sengaja, namun belum terfokus. 

Peristiwa 

Pada modul 2.3 saya belajar materi terkait seorang CGP memahami perannya sebagai pemimpin pembelajaran dan menjadi coach bagi guru lain. Materi yang baru bagi saya karena dalam modul ini saya bersama rekan CGP yang lain sama - sama berlatih menjadi supervisor, coach dan coachee. Awalnya kami merasa grogi, canggung, karena belum pernah ada diposisi tersebut. Namun, dengan kolaborasi dan kerjasama yang baik kami dapat melaksanakan praktik coaching dan supervisi dengan maksimal. 


➤ Perasaan

Perasaan saya mengikuti modul 2.3 ini sangat senang. Saya mendapatkan informasi dan pengetahuan baru bahwa ternyata coaching, konseling, mentoring, training, dan supervisi adalah hal yang berbeda. Selama ini saya berpikir bahwa keempat hal tersebut serupa. Namun, setelah saya belajar materi modul 2.3 saya mendapatkan definisi dan penjelasan yang berbeda dari tiap hal tersebut. Saya merasa senang karena saya mendapat wawasan dan pemikiran baru terkait coaching, konseling, mentoring, training, dan supervisi. 


Pembelajaran

Pembelajaran yang saya dapatkan dala modul 2.3 adalah ketika melakukan praktik coaching dan supervisi bersama rekan CGP dalam satu kelompok. Dalam praktik yang kami lakukan, kami belajar bagaimana berperan sebagai supervisor, coach, dan coachee. Dalam setiap peran kami belajar menjiwai karakter masing - masing. Ketika menjadi supervisor, kami belajar menjadi pemimpin dengan pribadi yang dapat mengayomi bawahan. Saat menjadi coach, kami belajar menjadi teman yang dapat membantu rekan untuk menemukan solusi dari sebuah permasalahan tanpa menghakimi. Dan ketika menjadi coachee, kami belajar menjadi pribadi yang membutuhkan teman untuk menemukan solusi dari permasalahan yang kami hadapi dalam pembelejaran. 


Penerapan 

Modul 2.3 menjadi modul yang penting untuk saya terapkan dalam pembelajaran saya. Bukan hanya kepada rekan sejawat, namun juga terhadap siswa. Dimana sebagai seorang calon guru penggerak saya harus mampu membantu rekan guru dan murid untuk menemukan solusi - solusi terbaik dalam setiap proses pembelajaran yang mereka hadapi. Bukan hanya sebagai kewajiban semata, namun menjadi gaya hidup yang selalu saya terapkan dalam kehidupan sehari - hari sehingga saya dapat menjadi seorang guru penggerak yang berperan dan berperilaku sesuai harapan, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi semua orang. 


Sabtu, 06 Juli 2024

Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.2

 

 “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati, adalah bukan pendidikan sama sekali” 

(Aristoteles, Filsuf)


Tepat sekali ungkapan yang dituliskan oleh filsuf Aristoteles tersebut bahwa ketika seorang guru  mengajar atau mendidik muridnya bukan semata - mata hanya membagikan ilmu pengetahuan yang mencerdaskan pikiran, namun juga mendidik hati yang berkaitan dengan pembelajaran keterampilan mengelola sosial emosional. Karena itu, sebagai seorang guru saya  perlu memiliki kompetensi kepribadian dalam hal  mengelola sosial emosional sebelum membagikannya kepada murid - murid.  

 

Modul 2.2 Pendidikan Guru Penggerak mengajarkan saya bagaimana keterampilan mengelola sosial emosional tersebut dipelajari dalam proses pembelajaran. Seperti apa yang disampaikan oleh Bapak Ki Hadjar Dewantara bahwa seorang pendidik adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak,  agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pemikiran KHD tersebut mengingatkan saya bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi mereka untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna. Kita merencanakan secara sadar pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan murid-murid untuk mewujudkan kekuatan (potensinya). Pembelajaran holistik yang memberikan mereka pengalaman untuk dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

 


Gambar diatas memberi pemahaman bagi saya bahwa Pembelajaran Sosial Emosional dapat mempengaruhi peningkatan kompetensi sosial dan emosional, menciptakan lingkungan belajar yang suportif, dan peningkatan sikap pada diri sendiri dengan menunjukkan sikap respek dan toleran terhadap orang lain dan lingkungan sekolah. Ketika ketiga hal tersebut terjadi, maka akan diperoleh hasil terkait peningkatan perilaku positif, pengurangan perilaku negatif, pengirangan tingkat stress, dan peningkatan performa akademik murid. Pembelajaran sosial emosional melatih murid untuk mengembangkan dan mengasah  kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri mereka masing - masing. 

 

Selain belajar dari modul 2.2, kami juga dibekali dengan eksplorasi konsep. Dimana irisan - irisan materi dari eksplorasi konsep semakin mempertajam keterampilan saya sebagai seorang guru untuk memahami, menggali dan menemukan berbagai kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri siswa. Melalui eksplorasi konsep tersebut, saya dan rekan - rekan CGP lainnya berdiskusi secara daring untuk saling bertukar ide dan pendapat terkait pembelajaran sosial emosional. Banyak pencerahan yang saya dapatkan ketika saya mengeksplorasi setiap konsep materi yang disajikan.

 

Setelah eksplorasi konsep kami pelajari, kami melakukan elaborasi pemahaman bersama instruktur yang ditunjuk. Elaborasi pemahaman dilakukan secara virtual dalam ruang daring. Walaupun kami tidak dapat bertemu secara langsung dengan instruktur kami, namun kami terfasilitasi dengan pertemuan dalam bingkai daring tersebut. Melalui elaborasi pemahaman ini, kami dapat bertanya jawab terkait hal - hal penting yang ada dalam materi pembelajaran sosial emosional. Saya sangat senang mendengar penjelasan dan contoh - contoh dari instruktur yang memberi penguatan kepada kami untuk termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran sosial emosional. 

 

Kegiatan yang kami lakukan selanjutnya adalah berbagi pendapat dalam ruang kolaborasi, membuat demonstrasi kontekstual, dan merancang aksi nyata. Dalam ruang kolaborasi, saya berada dalam satu kelompok dengan sesama rekan CGP yang bertugas di SMP. Dalam ruang kolaborasi ini kami berdiskusi dalam kelompok terkait langkah - langkah pembelajaran di kelas yang menerapkan pemberlajaran sosial emosional untuk menggali kompetensi sosial emosional yang dimiliki oleh murid. 

 

Dengan mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya mendapati bahwa peran guru sebagai seorang pendidik bukan hanya memastikan bahwa murid - muridnya memiliki kecerdasan dalam hal akademik, namun juga memperhatikan perkembangan kompetensi sosial emosional. Ada 5 kompetensi sosial emosional yang perlu dimiliki oleh murid, yaitu : kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Melalui modul 2.2 ini saya berharap dapat menjadi seorang guru yang dapat mendampingi dan menuntun murid - murid saya menemukan kompetensi sosial emosional yang perlu dikembangkan dalam dirinya melalu pembelajaran sosial emosional yang saya sampaikan. Sehingga murid - murid saya bertumbuh menjadi pribadi yang selamat dan bahagia serta bermanfaat bagi masyarakat. Mari terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Salam Guru Penggerak!!

 

Eva Melisda