“Mendidik
pikiran tanpa mendidik hati, adalah bukan pendidikan sama sekali”
(Aristoteles,
Filsuf)
Tepat
sekali ungkapan yang dituliskan oleh filsuf Aristoteles tersebut bahwa ketika
seorang guru mengajar atau mendidik muridnya bukan semata - mata hanya
membagikan ilmu pengetahuan yang mencerdaskan pikiran, namun juga mendidik hati
yang berkaitan dengan pembelajaran keterampilan mengelola sosial emosional.
Karena itu, sebagai seorang guru saya perlu memiliki kompetensi
kepribadian dalam hal mengelola sosial emosional sebelum membagikannya
kepada murid - murid.
Modul
2.2 Pendidikan Guru Penggerak mengajarkan saya bagaimana keterampilan mengelola
sosial emosional tersebut dipelajari dalam proses pembelajaran. Seperti apa
yang disampaikan oleh Bapak Ki Hadjar Dewantara bahwa seorang pendidik adalah
penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pemikiran KHD tersebut mengingatkan
saya bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan
motivasi mereka untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi
dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna. Kita
merencanakan secara sadar pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan
murid-murid untuk mewujudkan kekuatan (potensinya). Pembelajaran holistik yang
memberikan mereka pengalaman untuk dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan
seluruh potensi dalam dirinya setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun
anggota masyarakat agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Gambar diatas memberi pemahaman bagi saya bahwa Pembelajaran Sosial Emosional dapat mempengaruhi peningkatan kompetensi sosial dan emosional, menciptakan lingkungan belajar yang suportif, dan peningkatan sikap pada diri sendiri dengan menunjukkan sikap respek dan toleran terhadap orang lain dan lingkungan sekolah. Ketika ketiga hal tersebut terjadi, maka akan diperoleh hasil terkait peningkatan perilaku positif, pengurangan perilaku negatif, pengirangan tingkat stress, dan peningkatan performa akademik murid. Pembelajaran sosial emosional melatih murid untuk mengembangkan dan mengasah kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri mereka masing - masing.
Selain
belajar dari modul 2.2, kami juga dibekali dengan eksplorasi konsep. Dimana
irisan - irisan materi dari eksplorasi konsep semakin mempertajam keterampilan
saya sebagai seorang guru untuk memahami, menggali dan menemukan berbagai
kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri siswa. Melalui eksplorasi
konsep tersebut, saya dan rekan - rekan CGP lainnya berdiskusi secara daring
untuk saling bertukar ide dan pendapat terkait pembelajaran sosial emosional.
Banyak pencerahan yang saya dapatkan ketika saya mengeksplorasi setiap konsep
materi yang disajikan.
Setelah
eksplorasi konsep kami pelajari, kami melakukan elaborasi pemahaman bersama
instruktur yang ditunjuk. Elaborasi pemahaman dilakukan secara virtual dalam
ruang daring. Walaupun kami tidak dapat bertemu secara langsung dengan
instruktur kami, namun kami terfasilitasi dengan pertemuan dalam bingkai daring
tersebut. Melalui elaborasi pemahaman ini, kami dapat bertanya jawab terkait
hal - hal penting yang ada dalam materi pembelajaran sosial emosional. Saya
sangat senang mendengar penjelasan dan contoh - contoh dari instruktur yang
memberi penguatan kepada kami untuk termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran
sosial emosional.
Kegiatan
yang kami lakukan selanjutnya adalah berbagi pendapat dalam ruang kolaborasi,
membuat demonstrasi kontekstual, dan merancang aksi nyata. Dalam ruang
kolaborasi, saya berada dalam satu kelompok dengan sesama rekan CGP yang
bertugas di SMP. Dalam ruang kolaborasi ini kami berdiskusi dalam kelompok
terkait langkah - langkah pembelajaran di kelas yang menerapkan pemberlajaran
sosial emosional untuk menggali kompetensi sosial emosional yang dimiliki oleh
murid.
Dengan
mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya mendapati
bahwa peran guru sebagai seorang pendidik bukan hanya memastikan bahwa murid -
muridnya memiliki kecerdasan dalam hal akademik, namun juga memperhatikan
perkembangan kompetensi sosial emosional. Ada 5 kompetensi sosial emosional
yang perlu dimiliki oleh murid, yaitu : kesadaran diri, manajemen diri,
kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab. Melalui modul 2.2 ini saya berharap dapat menjadi seorang
guru yang dapat mendampingi dan menuntun murid - murid saya menemukan
kompetensi sosial emosional yang perlu dikembangkan dalam dirinya melalu
pembelajaran sosial emosional yang saya sampaikan. Sehingga murid - murid saya
bertumbuh menjadi pribadi yang selamat dan bahagia serta bermanfaat bagi
masyarakat. Mari terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Salam Guru
Penggerak!!
Eva
Melisda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar