Ke Bekasi bersama Ratu
Jangan lupa membeli kaca
Terimakasih modul satu
Kini saya tiba di modul dua
Wow, sungguh menyenangkan rasanya bisa mengakhiri modul satu dan bergerak menuju modul dua. Pengalaman belajar tentang filosofi KHD menjadi fondasi utama untuk melanjutkan materi di modul dua. Pada modul dua, kami belajar tentang bagaimana merancang pembelajaran berdiferensiasi didalam kelas. Kita telah belajar bersama dalam modul satu bahwa setiap anak memiliki kemampuan belajar yang beragam sesuai kodratnya. Karena itu, pembelajaran berdiferensiasi menjadi sebuah instrumen yang dapat memfasilitasi keragaman murid untuk dapat bertumbuh dan berkembang bersama sesuai kodratnya.
Modul dua diawali dengan sebuah pertanyaan pemantik sebagai refleksi individu terkait gambaran murid didalam kelas yang saya ampu. Ketika menjawab pertanyaan tersebut, saya membayangkan murid - murid saya dengan kebutuhan belajar yang berbeda - beda. Ada murid yang cepat dalam menerima materi pelajaran, ada yang sedang, bahkan ada juga yang lebih lambat. Mereka juga memilki keberagaman darlam latar belakang keluarga, ekonomi, suku dan budaya, agama, warna kulit, dan sebagainya. Sebagai guru, saya harus bisa memfasilitasi keragaman tersebut sebagai cara menuntun mereka untuk menemukan keselamatan dan kebahagiaannya.
Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi? Awalnya saya berpikir bahwa pembelajaran berdiferensiasi dimaknai dengan guru memberikan berbagai instrumen dan asesmen yang berbeda kepada setiap murid. Artinya, guru yang memilih model belajar seperti apa yang cocok untuk murid. Namun, setelah mempelajari materi dalam modul dua ini, saya memahami bahwa pembelajaran berdiferensiasi memilki arti yaitu serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Jadi, bukan guru yang menyesuaikan proses pembelajaran sesuai kebutuhan murid, namun guru berupaya secara konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid.
Pembelajaran berdiferensiasi bukan mengelompokkan murid yang pintar dengan yang pintar atau yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda kepada setiap murid, atau merancang proses pembelajaran yang berbeda untuk setiap murid. Jika hal ini terjadi, maka guru akan mengalami tekanan dan kejenuhan yang tinggi, bahkan dapat mengakibatkan stress maupun depresi. pembelajaran berdiferensiasi yang berorientasi kepada kebutuhan belajar murid hendaknya mengandung aspek keputusan - keputusan yang terkait dengan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif, dan penilaian berkelanjutan.
Aspek keputusan - keputusan akan kebutuhan belajar murid tersebut dapat kita simpulkan menjadi :
2. Minat murid
3. Profil belajar murid
- Bersifat mendasar vs Bersifat transformatif
- Konkret vs Abstrak
- Sederhana vs Kompleks
- Terstruktur vs Terbuka
- Tergantung vs Mandiri
- Lambat vs Cepat
Kita dapat merancang pembelajaran berdiferensiasi setelah kita memperoleh informasi aspek kebutuhan belajar murid dan melakukan pemetaan. Selanjutnya, hasil pemetaan tersebut menjadi dasar bagi seorang guru untuk menentukan pembelajaran berdiferensiasi seperti apa yang direncakan? Apakah diferensiasi konten, proses, atau produk? Apapun pembelajaran berdiferensiasi yang direncanakan oleh seorang guru hendaknya dapat memfasilitasi murid untuk menemukan tujuan belajarnya dan memiliki karakter profil pelajar Pancasila dalam setiap lakunya.
Selain materi yang kami pelajari dalam modul dua, kami juga dibekali dengan pengalaman - pengalaman instruktur dan tim fasilitator dalam mendampingi kegiatan kami. Berbagai praktik baik yang disamapaikan, memberikan pencerahan dan semangat baru bagi kami untuk merancang proses pembelajaran berdiferensiasi yang bermakna bagi murid.
Dari apa yang saya pelajari diawal pembelajaran modul dua, saya mendapat pemahaman baru bagaimana melakukan pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dengan kebutuhan murid. Sehingga sebagai seorang guru, saya dapat menuntun murid - murid saya menemukan tujuan hidupnya secara lahir dan batin, serta memperoleh keselamatan dan kebahagiaan dalam tumbuh kembangnya. Pada akhirnya murid - murid saya menjadi pribadi yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya, namun juga masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Selamat berjuang para guru hebat untuk menuntun murid - murid! Tergerak, bergerak, menggerakkan...
Salam guru penggerak,
.jpg)
Mantap nih, semangat terus berbagi
BalasHapus