Salam Guru Penggerak!
Tanpa terasa Program Guru Penggerak sudah masuk di Modul 1.4. Modul yang bagi saya amat sangat membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena materi yang harus dipelajari sudah semakin mendalam. Modul 1.4 masih membahas tentang filosofi Ki Hadjar Dewantara dan penerapannya dalam proses pembelajaran sehari - hari. Penasaran apa saja yang saya dapatkan di modul ini? Yuk, simak pengalaman saya berikut ini.
FACTS (PERISTIWA)
Modul 1.4 membawa saya untuk mengenal dan memahami bagaimana proses menciptakan lingkungan positif yang mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia,mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara. Dalam modul ini saya diingatkan kembali bahwa seorang pendidik diibaratkan sebagai seorang petani yang menabur benih tanaman. Petani hanya dapat menuntun proses tumbuhnya sebuah benih dengan menyiram, memberi pupuk, memperbaiki kondisi tanah, membasmi hama dan ulat - ulat. Namun petani tidak dapat memaksakan benih sebuah jenis tanaman tumbuh menjadi jenis tanaman lainnya. Petani tidak dapat memaksa padi tumbuh menjadi kedelai, begitupun sebaliknya.
Filosofi ini menyadarkan saya bahwa untuk menciptakan lingkungan positif bagi murid, kita perlu mengingat kembali keberagaman karakter, bakat minat, dan latar belakang kehidupan sosial yang dimiliki oleh setiap murid. Karena itu lingkungan positif yang direncanakan harus menjadi sebuah budaya yang dapat memotivasi murid menjadi pribadi yang lebih baik, mengalami kemajuan dalam berpikir dan bertindak dengan berbahagia dan tanpa beban. Lingkungan positif yang terbentuk juga harus menjadi sebuah budaya yang membawa murid memahami bagaimana menerapkan disiplin diri dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.
FEELINGS (PERASAAN)
Pada saat mempelajari Modul 1.4 ini saya membayangkan bagaimana lingkungan positif dapat mengubah murid - murid saya menjadi pribadi yang beriman, berahlak mulia, mandiri dan bertanggung jawab. Tidak ada lagi bullying, merasa lebih hebat dari yang lain, tidak peduli kepada orang tua dan guru. Saya memimpikan murid - murid yang hebat bukan hanya secara akademik namun juga dalam karakter dan kepribadian sesuai profil pelajar Pancasila.
Materi dalam modul ini membuat saya bersemangat untuk melakukan perubahan. Walaupun saya menyadari bahwa bukan hal yang mudah untuk menciptakan lingkungan positif di sekolah. Pasti banyak tantangan dan rintangan. Namun saya yakin, dengan semangat dan hati yang ikhlas serta kesadaran diri sebagai seorang calon guru penggerak, pasti setiap tantangan dan rintangan dapat saya hadapi dengan dukungan pimpinan dan rekan - rekan sejawat.
FINDINGS (PENEMUAN)
Sebuah pencerahan yang saya dapatkan adalah ketika saya bersama teman kelompok melakukan diskusi dari beberapa kasus yang disajikan dalam modul. Ada empat kasus yang biasa terjadi di sekolah yang harus kami amati dan analisa sebagai bahan pembelajaran yang bermakna dalam mendukung lingkungan positif yang akan kami ciptakan selanjutnya di sekolah kami masing - masing. Keempat kasus tersebut memang kami dapati kerap terjadi antara guru dengan murid dilingkungan sekolah.
Dari empat kasus tersebut saya menemukan ada 3 motivasi perilaku manusia yang menjadi alasan untuk melakukan sesuatu, yaitu : untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai - nilai yang mereka percayai. Tiga motivasi ini memberikan pemahaman baru kepada saya bahwa ketika saya mempercayai nilai - nilai yang benar dan positif dalam perilaku saya, maka saya akan dapat menghargai diri saya sebagai pribadi ciptaan Tuhan yang mulia. Demikian juga dengan murid - murid saya pastinya dapat mengalami terobosan pemikiran yang sama apabila saya menjadi contoh dan teladan bagi mereka.
Hal lain yang saya temukan dari materi ini adalah pemahaman akan perbedaan istilah hukuman, konsekuensi, dan restitusi. Saya menyadari bahwa sekitar 70% disiplin yang saya lakukan selama ini terhadap siswa lebih kearah hukuman dan konsekuensi. Hal ini membuat murid - murid saya kurang menerapkan disiplin dengan kesadaran dan rasa tanggungjawab. Mengapa demikian? Karena murid hanya menjalankan sebuah kedisiplinan dengan pola pikir seperti robot. Mereka bertindak dengan monoton karena takut berasalah dan mendapat hukuman atau konsekuensi.
Restitusi menjadi sebuah gaya yang harus diterapkan ketika seorang guru berhadapan dengan murid yang melakukan kelalaian dalam disiplin. Restitusi mengajak murid untuk menemukan sebuah kebenaran dari kesalahan dan kelalaian yang dilakukan tanpa menghakimi atau menyudutkan murid. Ini menjadi sebuah terobosan baru dalam pemikiran saya ketika berhadapan dengan murid - murid di sekolah. Restitusi bukan hanya menunjukkan sebuah kesalahan yang dilakukan murid, namun juga memberi ruang bagi murid untuk menemukan solusi dari kesalahan tersebut dan bertanggung jawab melaksanakan keputusan yang telah disepakati. Guru menjadi pribadi yang memotivasi murid untuk bergerak kearah yang benar dari sebuah pengalaman akan kesalahan.
FUTURE (PENERAPAN)
Akhirnya, pembelajaran yang saya terima dari Modul 1.4 ini memberi arahan yang baru bagaimana menciptakan lingkungan positif yang berpihak pada murid. Saya tidak lagi melihat murid sebagai obyek yang hanya menerima ilmu dari guru, namun betul - betul melihat mereka sebagai manusia seutuhnya yang memiliki pikiran dan perasaan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang mulia.
Restitusi menjadi sebuah alat bagi saya untuk menciptakan lingkungan positif di sekolah saya. Saya ingin menjadi guru yang dapat membawa murid saya menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab, cerdas dalam akademik dan karakter, beriman dan berakhlak mulia, serta memiliki kesadaran penuh akan pilihan - pilihan yang benar dalam hidupnya. Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi masyarakat dan bangsanya.
Salam guru penggerak, salam dan bahagia!
Eva
Tidak ada komentar:
Posting Komentar