Salam guru penggerak! Salam dan bahagia.
Modul 1.3 memaparkan materi bagaimana seorang guru penggerak menjadi pemimpin pembelajaran yang memiliki visi. Dikatakan, Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi memang belum terjadi saat ini, namun begitu kuat kita inginkan untuk terwujud di masa depan. Visi adalah representasi visual kita akan masa depan. Penggambaran visi yang jelas tentang keadaan di masa depan dapat membantu kita untuk merencanakan dan menyelaraskan upaya-upaya mewujudkannya. Melalui tulisan ini saya akan membagikan bagimana pengalaman saya ketika mengikuti materi dalam modul 1.3 dengan model 4F. Selamat menyimak..
➤ FACTS (PERISTIWA)
Modul 1.3 mengantar saya untuk berperan sebagai prakarsa perubahan dengan kekuatan positif yang dimiliki oleh lingkungan belajar, bukan lagi mencari apa permasalahan yang terjadi. Dibutuhkan sebuah visi untuk mewujudkan perubahan positif dalam lingkungan belajar. Perubahan tersebut tentunya diawali dengan perubahan budaya lingkungan belajar (sekolah). Perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa memiliki visi, karena visi akan membawa kita kepada sebuah tujuan dan cita - cita dimasa depan.
Sebelum merumuskan sebuah visi, seorang pemimpin pembelajaran sekaligus pemimpin perubahan harus melakukan sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Melalui modul ini saya menemukan dan memahami sebuah konsep pendekatan yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA).
Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.
Inkuiri Apresiatif dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan kearah lebih baik. Untuk menerapkan IA sebagai model manajemen perubahan, dapat diterapkan melalui tahapan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). BAGJA diambil dari sebuah istilah dalam bahasa Sunda, yang berarti Bahagia.
➤ FEELINGS (PERASAAN)
Awalnya saya merasa kesulitan saat memahami tahapan BAGJA. Saya sulit sekali menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang telah ada di sekolah saya. Karena itu, untuk lebih memahami tahapan BAGJA, saya membaca kembali penjelasan materi yang dipaparkan pada modul 1.3 ini. Kemudian saya menggali lebih dalam setiap tahap demi tahap sampai saya memahami apa saja yang harus saya lakukan.
Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, saya dituntun untuk merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover) mengajak saya untuk mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream) saya mempelajari bagaimana dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran.Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design) yaitu merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver) membimbing saya untuk memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.
➤ FINDINGS (PENEMUAN)
Setelah mempelajari dan menggali kembali materi terkait tahapan BAGJA, saya menemukan penyebab kesulitan yang saya alami untuk menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang ada dilingkungan sekolah saya adalah adanya budaya sekolah yang belum tepat dalam melakukan perubahan. Budaya yang diterapkan hanya fokus kepada permasalahan - permasalahan yang terjadi di sekolah.
Tahapan proses BAGJA yang telah disusun dapat menjadi sebuah acuan untuk merumuskan kegiatan berikutnya dengan menggunakan metode Amati - Tiru - Modifikasi (ATM). Hal ini menjadi sebuah keuntungan bagi saya ketika harus merumuskan kembali tujuan yang ingin dicapai. Saya dapat melihat dan mereviu ulang bagian mana yang perlu diperbaiki, dan bagian mana yang sudah baik.
Inkuiri apresiatif yang dilakukan melalui tahapan BAGJA memberikan paradigma baru bagi saya untuk merumuskan visi dengan melakukan perubahan berdasarkan kekuatan positif yang dimiliki oleh sekolah. Kekuatan tersebut tentu saja bersumber dari murid dan lingkungan belajar. Isu utama yang digali bukan lagi mencari permasalahan, namun apa hal - hal baik yang telah dilakukan oleh murid dan lingkungan belajar.
Kekuatan BAGJA ada pada proses penggalian jawaban pertanyaan yang didasari oleh rasa ingin tahu, kebaikan, dan kebersamaan. BAGJA mewujud menjadi pengalaman kolaboratif yang apresiatif dan bermakna bagi peningkatan kualitas belajar murid di sekolah. BAGJA menjadi alat yang digunakan untuk mencapai visi atau tujuan yang tentunya berpihak pada murid.
➤ FUTURE (PENERAPAN)
Melalui rangkaian materi yang sudah saya pelajari dalam proses BAGJA, saya berharap sebagai seorang guru penggerak dapat mengaplikasikannya dalam merumuskan sebuah visi atau tujuan yang bermakna dan berpihak pada murid. Keragaman karakteristik murid yang ada di sekolah saya, dapat menjadi saranan bagi saya untuk menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang ada dalam diri setiap murid.
Tahapan BAGJA menjadi sebuah senjata yang akan saya gunakan dalam melakukan perubahan. Hal baru yang semula saya rasa sulit, namun akhirnya memberi pandangan, pencerahan, dan paradigma baru dalam diri saya.
Mari terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang memprakarsai perubahan. Dengan satu tujuan, menciptakan pembelajran yang berpihak kepada murid.
Salam guru penggerak!
Eva Melisda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar