Salam guru penggerak!
Tulisan ini adalah jurnal dwi mingguan pertama yang saya buat sebagai refleksi pribadi untuk modul 1.1 tentang Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).
➤ FACTS (Peristiwa)
Rasanya masih belum percaya ketika saya menerima informasi kelulusan seleksi guru penggerak dari laman SIMPKB yang terpampang di layar laptop saya. Setelah dua kali gagal dalam seleksi guru penggerak Angkatan 5 dan 7, rasanya sulit sekali untuk lulus di Angkatan 10. Bahagia, senang, dan bangga, itulah yang saya rasakan setelah mengingat kembali bagaimana sulitnya perjuangan menghadapi berbagai tes kompetensi yang diwajibkan.
Setelah menerima informasi kelulusan, kegiatan selanjutnya adalah pembukaan pendidikan guru penggerak Angkatan 10 oleh Ibu Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. sebagai Dirjen GTK dan Bapak Dr. Kasiman sebagai Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan. Dalam pembukaan ini seluruh calon guru penggerak diberikan penguatan sebelum melaksanakan pendidikan guru penggerak.
Selanjutnya seluruh CGP A10 mengikuti sosialisasi aktivasi akun LMS yang difasilitasi oleh BBPMP Jawa Tengah yaitu Bapak Pujiadi. Bersama tim, beliau menjelaskan langkah - langkah yang harus dilakukan dalam proses aktivasi LMS. Kami juga diberikan kesempatan untuk mencoba melakukan demo cara aktivasi akun LMS tersebut. Dalam pendidikan guru penggerak angkatan 10, akun LMS yang digunakan terhubung langsung dengan Platform Merdeka Mengajar. Sehingga seluruh peserta wajib memiliki akun belajar.id sebagai syarat untuk dapat membuka akun LMS tersebut.
Pada tanggal 19 Maret 2024, saya kembali masuk kedalam kelas daring yang difasilitasi oleh Ibu Suspeni dari BBGP DIY. Nama ruang kelas daring kami adalah PGP. 10.088. Dalam pertemuan ini kami saling memperkenalkan diri dan menyebutkan sekolah asal kami masing - masing. Disini Ibu Suspeni menyampaikan materi tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menjadi filosofi pendidikan. Seluruh peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan memberikan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. Pada pertemuan ini, hadir juga pengajar praktik kami yaitu Ibu Mintauli Banjarnahor.
Keesokan harinya, Rabu, 20 Maret 2024, kami kembali bertemu didalam kelas daring untuk berdiskusi dan berkolaborasi terkait materi yang telah disampaikan oleh Ibu Suspeni yaitu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Dalam kegiatan ini kami merancang sebuah materi presentasi kelompok terkait kekuatan konteks sosio - kultural di wilayah masing - masing. Dalam hal ini khususnya di provinsi DKI Jakarta. Setiap anggota kelompok mengemukakan ide dan pemikirannya untuk dapat dituangkan dalam desain presentasi.
Akhirnya, tiba waktunya bagi kelompok kami untuk mempresentasikan hasil diskusi dan kolaborasi yang kami tuangkan dalam sebuah rancangan presentasi kelompok. Masing - masing anggota menjelaskan materi presentasi sesuai bagiannya. Didalam kelas kami ada dua kelompok yang diketuai oleh Pak Ridho dan Ibu Nelly. Dalam ruang presentasi ini juga diberikan kesempatan bagi anggota kelompok lain untuk bertanya secara positif atau memberikan pendapat yang membangun. Kemudian Ibu Suspeni sebagai fasilitator memberikan umpan balik untuk kedua kelompok. Selanjutnya, materi presentasi tersebut kami unggah kedalam tugas yang telah disediakan pada akun LMS.
Setelah beberapa kali mengikuti pertemuan daring, seluruh CGP A10 bertemu dalam lokakarya orientasi. Lokakarya dilaksanakan pada Sabtu, 23 Maret 2024. Lokakarya ini mengundang juga pendamping dari setiap CGP, baik kepala sekolah maupun guru yang ditugaskan. Dalam lokakarya ini setiap peserta akhirnya dapat bertemu langsung secara bertatap muka dengan peserta lain dan pengajar praktik. Pembukaan lokakarya dilaksanakan didalam aula SMKN 26 Rawamangun. Setelah pembukaan lokakarya, selanjutnya setiap CGP bersama pendamping masuk kedalam kelas masing - masing.
Didalam kelas, setiap CGP dan pendamping saling berkenalan dan membuat kesepakatan kelas. Pendamping juga memberikan komitmen dan dukungan setiap CGP di sekolah masing - masing untuk terus bergerak maju sampai pendidikan guru penggerak selesai.
Setelah mendapat dukungan dan penguatan dari setiap pendamping, saya dan teman - teman kembali melanjutkan kegiatan diskusi dan pengerjaan tugas dengan didampingi oleh pengajar praktik yaitu Ibu Mintauli Banjarnahor.
➤ FEELINGS (Perasaan)
Beragam hal yang saya rasakan saat mulai mengikuti kegiatan pendidikan guru penggerak. Disatu sisi saya sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian transformasi pendidikan seperti yang digaungkan oleh Bapak Ki Hajar Dewantara. Disisi lain ada kegelisahan dalam hati apakah saya sanggup mengikuti kegiatan ini sampai akhir mengingat waktu pelaksanaan yang cukup lama yaitu selama 6 bulan. Saya kuatir tidak dapat membagi waktu mengajar dengan tugas - tugas yang diberikan. Selain itu saya juga memikirkan bagaimana perhatian terhadap keluarga karena program pendidikan guru penggerak ini pasti menyita waktu, tenaga, dan pikiran.
Namun, saya yakin dengan doa dan niat yang baik pasti semua akan dapat saya lewati dengan baik. Untuk itu saya selalu berusaha menjaga kesehatan saya, mengelola waktu saya dengan baik agar tanggung jawab saya sebagai guru, istri, dan ibu tidak terbengkalai. Saya juga belajar menemukan cara - cara terbaik yang bisa saya lakukan untuk tetap seimbang dalam melaksanakan tugas tanggung jawab saya. Saya berupaya melakukan diskusi dengan keluarga, rekan kerja, dan komunitas kerohanian ketika membutuhkan nasihat atau solusi.
Seperti apa yang disampaikan oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa guru adalah penuntun dan pembimbing murid dalam menemukan tujuan hidupnya sesuai kodrat alam dan kodrat zaman, saya sangat yakin bahwa saya adalah salah satu agen perubahan pendidikan yang telah dipilih dan diperlengkapi oleh Tuhan. Karena itu saya harus belajar menerima kehormatan ini dengan sebaik - baiknya.
➤ FINDINGS (Penemuan)
Melalui pembelajaran modul 1.1 tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, saya menemukan pemikiran baru yang selama ini belum pernah terlintas dalam hati saya. Materi mulai dari diri menjadi tonggak dimulainya tekad dan semangat yang baru dalam diri saya untuk melakukan transformasi pendidikan. Yang tadinya saya berpikir bahwa siswa hanya sebuah objek yang perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan saja, berganti menjadi siswa adalah benih - benih yang perlu dirawat agar tumbuh menjadi pohon yang menghasilkan buah yang baik.
Enam dasar prinsip pemikiran Ki Hajar Dewantara menyadarkan saya bahwa siswa harus dituntun sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Sebagai guru tugas saya bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan materi pembelajaran, namun juga menanamkan budi pekerti yang dapat mengasah cipta, rasa, dan karsa dari setiap siswa. Karena sesungguhnya tujuan pendidikan adalah menuntun semua kodrat yang ada pada anak sehingga mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi - tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Sebagai seorang pendidik saya harus mampu menuntun siswa untuk memiliki karakter profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bertanggung jawab, gotong - royong, bernalar kritis, dan kreatif sesuai bakat minat dan keterampilan masing - masing.
➤ FUTURE (Penerapan)
Agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, saya harus membenahi cara mengajar saya didalam kelas. Banyak hal yang selama ini belum saya lakukan sebagai upaya membangun pendidikan yang berpusat pada siswa. Selama ini cara mengajar yang saya lakukan lebih banyak berpusat kepada guru.
Saya juga akan belajar lebih lagi terkait teknologi yang sesuai dengan siswa saya. Sesuai kodrat zaman, guru harus terus mengembangkan diri mengikuti perkembangan teknologi sehingga dapat menemukan ide - ide kreatif yang baru saat mengajar. Dengan mempersiapkan teknologi yang sesuai bagi siswa, tentunya akan sangat mempengaruhi suasana belajar didalam kelas.
Hal lain yang akan saya lakukan adalah melakukan asesmen bakat minat dan ketertarikan setiap siswa dalam pembelajaran. Melalui langkah ini saya berharap dapat menemukan ragam keterampilan dari setiap siswa, sehingga dapat saling melengkapi dan berkolaborasi satu dengan yang lain. Pada akhirnya saya yakin bahwa saya dapat menuntun setiap siswa yang ada didalam kelas saya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaannya serta menjadi pribadi yang bermanfaat didalam masyarakat.
Salam dan Bahagia,
Eva Melisda
CGP A10

.jpg)





Saya sangat yakin akan kemajuan pendidikan di Indonesia jika semua guru memiliki pemikiran "bagaimana siswa/i bisa bukan hanya cerdas secara intelektual tetapi memiliki karakter yang benar". Semangat terus Ibu untuk mendidik siswa siswi dengan segenap supaya mu, percayalah segala yang kau tabur tidak akan pernah lalu dengan sia sia.
BalasHapus