Selasa, 02 April 2024

Koneksi Antar Materi Modul 1.1

 


Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Salam dan Bahagia....

Apa yang muncul dalam benak kita setiap kali kita mendengar nama Ki Hajar Dewantara? Tentunya sosok seorang tokoh yang tidak asing lagi dalam dunia pendidikan. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, saya mengetahui beliau sebagai Bapak Pendidikan. Bahkan tanggal lahir Ki Hajar Dewantara yaitu 2 Mei, tetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional sesuai Keputusan Presiden No. 316  pada tanggal 16 Desember 1959. 

Saya pernah membaca buku tentang Ki Hajar Dewantara. Namun saya belum pernah memahami bahwa pendidikan di Indonesia adalah buah pemikiran dari seorang Ki Hajar Dewantara. Saya belum pernah menggali mengapa beliau diberikan kehormatan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Saya hanya berpikir bahwa itu terjadi karena beliau lahir pada tanggal 2 Mei, sehingga ditetapkan menjadi Bapak Pendidikan Nasional. Tiga semboyan beliau yang terkenal adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Dari ketiga semboyan tersebut, Tut Wuri Handayani menjadi semboyan yang paling terkenal dalam dunia pendidikan. 

Dalam membuat kesimpulan dan refleksi terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara, terdapat pertanyaan - pertanyaan yang menjadi dasar bagi saya untuk melakukan perubahan. Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya   mempelajari modul 1.1?
Sebelum mengikuti pendidikan guru penggerak dan mendapatkan materi modul 1.1 tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hajar Dewantara, saya memiliki pemikiran dan kepercayaan yang salah terhadap murid - murid saya. Beberapa pikiran yang salah tersebut antara lain : 

➤ Murid adalah objek yang tidak tahu apa - apa tentang pendidikan. 
➤ Murid adalah objek yang perlu terus diberikan ilmu pengetahuan. 
➤ Guru adalah sumber satu - satunya sumber ilmu. 
➤ Guru adalah pusat perhatian dari murid, karena apabila murid tidak memperhatikan guru, mereka tidak mendapat apa - apa.
➤ Guru harus selalu mengawasi tingkah laku murid karena mereka tidak punya pengalaman. 
➤ Tujuan pendidikan adalah membuat murid pintar. 

Pemikiran - pemikiran yang salah menjadi refleksi dan koreksi bagi diri saya untuk menjawab tantangan berikutnya. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul 1.1? 

Setelah mempelajari modul 1.1 saya mendapatkan pencerahan yang baru dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dari modul ini saya memahami bahwa tujuan pendidikan bukan hanya menjadikan murid menjadi pintar, tetapi menuntun kodrat murid baik kodrat alam maupun kodrat zaman untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi - tingginya. Dari pemikiran ini saya mendapatkan wawasan baru bahwa sebagai guru saya memiliki peran untuk menuntun dan membimbing murid sesuai kodratnya dalam menemukan jati dirinya dan mencapai keselamatan serta kebahagiaan hidupnya. 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara juga memberikan pemahaman baru kepada saya bahwa Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai  keinginan orang dewasa. Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Pemikiran ini mengubah pola pikir dan perilaku saya untuk memandang murid sebagai manusia yang telah memiliki rancangan dari Tuhan Yang Maha Esa, namun belum terlihat secara nyata (masih samar) terkait rancangan tersebut. Tugas seorang guru adalah menuntun murid untuk menebalkan kekuatan kodrat atau rancangan yang masih samar tersebut. 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut semakin menguatkan saya untuk menuntun murid memiliki karakter yang berprofil Pancasila. Karena saya percaya ketika murid sudah memiliki karakter profil Pancasila, pastinya anak tersebut memiliki iman dan takwa serta dapat menghargai sesamanya. Memiliki budi pekerti dan menjadi pribadi yang  bermanfaat bagi masyarakat. 

Pemikiran baru yang saya peroleh dari modul 1.1 membawa saya kepada tantangan berikutnya. Apa yang dapat segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?

Pada bagian ini saya belajar untuk merancang sebuah kegiatan belajar yang berpusatkan pada murid, bukan lagi guru. Artinya seluruh proses pembelajaran yang saya lakukan harus memperhatikan keberagaman murid baik dari agama, budaya, bakat minat, dan keterampilan. Sebagai guru saya harus memiliki keterampilan untuk memfasilitasi keberagaman setiap murid untuk dapat mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya dan menjadikan kelas saya semakin baik, membangkitkan semangat, dan menyenangkan. 

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa apa yang menjadi pemikiran Ki Hajar Dewantara merupakan landasan bagi saya untuk melaksanakan pembelajaran yang menuntun murid kepada keselamatan dan kebahagiaan mereka. Sesuai dengan semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, guru harus mengalami perubahan pikiran dan menjadi bagian dari perubahan. Dengan mengutamakan iman takwa dan berahlak mulia, berpikir global, bernalar kritis, berkarakter gotong royong, serta kreatif. Guru juga menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk membawa murid kepada budi pekerti yang benar, memiliki cipta, rasa , dan karsa serta berpikir inovatif sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Guru menjadi penuntun, dan murid bersedia dengan ikhlas hati untuk dituntun. Mari bergerak bersama melakukan perubahan. 


Salam guru penggerak,
CGP A10 - Pantang Mengeluh...!





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar