Sabtu, 25 Mei 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4

 Salam Guru Penggerak!

Tanpa terasa Program Guru Penggerak sudah masuk di Modul 1.4. Modul yang bagi saya amat sangat membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena materi yang harus dipelajari sudah semakin mendalam. Modul 1.4 masih membahas tentang filosofi Ki Hadjar Dewantara dan penerapannya dalam proses pembelajaran sehari - hari. Penasaran apa saja yang saya dapatkan di modul ini? Yuk, simak pengalaman saya berikut ini.

FACTS (PERISTIWA)

Modul 1.4 membawa saya untuk mengenal dan memahami bagaimana proses menciptakan lingkungan positif yang mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia,mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara. Dalam modul ini saya diingatkan kembali bahwa seorang pendidik diibaratkan sebagai seorang petani yang menabur benih tanaman. Petani hanya dapat menuntun proses tumbuhnya sebuah benih dengan menyiram, memberi pupuk, memperbaiki kondisi tanah, membasmi hama dan ulat - ulat. Namun petani tidak dapat memaksakan benih sebuah jenis tanaman tumbuh menjadi jenis tanaman lainnya. Petani tidak dapat memaksa padi tumbuh menjadi kedelai, begitupun sebaliknya. 

Filosofi ini  menyadarkan saya bahwa untuk menciptakan lingkungan positif bagi murid, kita perlu mengingat kembali keberagaman karakter, bakat minat, dan latar belakang kehidupan sosial yang dimiliki oleh setiap murid. Karena itu lingkungan positif yang direncanakan harus menjadi sebuah budaya yang dapat memotivasi murid menjadi pribadi yang lebih baik, mengalami kemajuan dalam berpikir dan bertindak dengan berbahagia dan tanpa beban. Lingkungan positif yang terbentuk juga harus menjadi sebuah budaya yang membawa murid memahami bagaimana menerapkan disiplin diri dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.


FEELINGS (PERASAAN)

Pada saat mempelajari Modul 1.4 ini saya membayangkan bagaimana lingkungan positif dapat mengubah murid - murid saya menjadi pribadi yang beriman, berahlak mulia, mandiri dan bertanggung jawab. Tidak ada lagi bullying, merasa lebih hebat dari yang lain, tidak peduli kepada orang tua dan guru. Saya memimpikan murid - murid yang hebat bukan hanya secara akademik namun juga dalam karakter dan kepribadian sesuai profil pelajar Pancasila. 

Materi dalam modul ini membuat saya bersemangat untuk melakukan perubahan. Walaupun saya menyadari bahwa bukan hal yang mudah untuk menciptakan lingkungan positif di sekolah. Pasti banyak tantangan dan rintangan. Namun saya yakin, dengan semangat dan hati yang ikhlas serta kesadaran diri sebagai seorang calon guru penggerak, pasti setiap tantangan dan rintangan dapat saya hadapi dengan dukungan pimpinan dan rekan - rekan sejawat. 


FINDINGS (PENEMUAN)

Sebuah pencerahan yang saya dapatkan adalah ketika saya bersama teman kelompok melakukan diskusi dari beberapa kasus yang disajikan dalam modul. Ada empat kasus yang biasa terjadi di sekolah yang harus kami amati dan analisa sebagai bahan pembelajaran yang bermakna dalam mendukung lingkungan positif yang akan kami ciptakan selanjutnya di sekolah kami masing - masing. Keempat kasus tersebut memang kami dapati kerap terjadi antara guru dengan murid dilingkungan sekolah. 

Dari empat kasus tersebut saya menemukan ada 3 motivasi perilaku manusia yang menjadi alasan untuk melakukan sesuatu, yaitu : untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai - nilai yang mereka percayai. Tiga motivasi ini memberikan pemahaman baru kepada saya bahwa ketika saya mempercayai nilai - nilai yang benar dan positif dalam perilaku saya, maka saya akan dapat menghargai diri saya sebagai pribadi ciptaan Tuhan yang mulia. Demikian juga dengan murid - murid saya pastinya dapat mengalami terobosan pemikiran yang sama apabila saya menjadi contoh dan teladan bagi mereka. 

Hal lain yang saya temukan dari materi ini adalah pemahaman akan perbedaan istilah hukuman, konsekuensi, dan restitusi. Saya menyadari bahwa sekitar 70% disiplin yang saya lakukan selama ini terhadap siswa lebih kearah hukuman dan konsekuensi. Hal ini membuat murid - murid saya kurang menerapkan disiplin dengan kesadaran dan rasa tanggungjawab. Mengapa demikian? Karena murid hanya menjalankan sebuah kedisiplinan dengan pola pikir seperti robot. Mereka bertindak dengan monoton karena takut berasalah dan mendapat hukuman atau konsekuensi. 

Restitusi menjadi sebuah gaya yang harus diterapkan ketika seorang guru berhadapan dengan murid yang melakukan kelalaian dalam disiplin. Restitusi mengajak murid untuk menemukan sebuah kebenaran dari kesalahan dan kelalaian yang dilakukan tanpa menghakimi atau menyudutkan murid. Ini menjadi sebuah terobosan baru dalam pemikiran saya ketika berhadapan dengan murid - murid di sekolah. Restitusi bukan hanya menunjukkan sebuah kesalahan yang dilakukan murid, namun juga memberi ruang bagi murid untuk menemukan solusi dari kesalahan tersebut dan bertanggung jawab melaksanakan keputusan yang telah disepakati. Guru menjadi pribadi yang memotivasi murid untuk bergerak kearah yang benar dari sebuah pengalaman akan kesalahan. 


FUTURE (PENERAPAN)

Akhirnya, pembelajaran yang saya terima dari Modul 1.4 ini memberi arahan yang baru bagaimana menciptakan lingkungan positif yang berpihak pada murid. Saya tidak lagi melihat murid sebagai obyek yang hanya menerima ilmu dari guru, namun betul - betul melihat mereka sebagai manusia seutuhnya yang memiliki pikiran dan perasaan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang mulia. 

Restitusi menjadi sebuah alat bagi saya untuk menciptakan lingkungan positif di sekolah saya. Saya ingin menjadi guru yang dapat membawa murid saya menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab, cerdas dalam akademik dan karakter, beriman dan berakhlak mulia, serta memiliki kesadaran penuh akan pilihan - pilihan yang benar dalam hidupnya. Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi masyarakat dan bangsanya.

Salam guru penggerak, salam dan bahagia!

Eva 









Sabtu, 04 Mei 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3

 Salam guru penggerak! Salam dan bahagia. 

Modul 1.3 memaparkan materi bagaimana seorang guru penggerak menjadi pemimpin pembelajaran yang memiliki visi. Dikatakan, Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi memang belum terjadi saat ini, namun begitu kuat kita inginkan untuk terwujud di masa depan. Visi adalah representasi visual kita akan masa depan. Penggambaran visi yang jelas tentang keadaan di masa depan dapat membantu kita untuk merencanakan dan menyelaraskan upaya-upaya mewujudkannya. Melalui tulisan ini saya akan membagikan bagimana pengalaman saya ketika mengikuti materi dalam modul 1.3 dengan model 4F. Selamat menyimak..

➤ FACTS (PERISTIWA)

Modul 1.3 mengantar saya untuk berperan sebagai prakarsa perubahan dengan kekuatan positif yang dimiliki oleh lingkungan belajar, bukan lagi mencari apa permasalahan yang terjadi. Dibutuhkan sebuah visi untuk mewujudkan perubahan positif dalam lingkungan belajar. Perubahan tersebut tentunya diawali dengan perubahan budaya lingkungan belajar (sekolah). Perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa memiliki visi, karena visi akan membawa kita kepada sebuah tujuan dan cita - cita dimasa depan. 

Sebelum merumuskan sebuah visi, seorang pemimpin pembelajaran sekaligus pemimpin perubahan harus melakukan sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Melalui modul ini saya menemukan dan memahami sebuah konsep pendekatan yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). 

Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

Inkuiri Apresiatif dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan kearah lebih baik. Untuk menerapkan IA sebagai model manajemen perubahan, dapat diterapkan melalui tahapan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). BAGJA diambil dari sebuah istilah dalam bahasa Sunda, yang berarti Bahagia. 

➤ FEELINGS (PERASAAN)

Awalnya saya merasa kesulitan saat memahami tahapan BAGJA. Saya sulit sekali menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang telah ada di sekolah saya. Karena itu, untuk lebih memahami tahapan BAGJA, saya membaca kembali penjelasan materi yang dipaparkan pada modul 1.3 ini. Kemudian saya menggali lebih dalam setiap tahap demi tahap sampai saya memahami apa saja yang harus saya lakukan. 

Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, saya dituntun untuk merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover) mengajak saya untuk  mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream) saya mempelajari bagaimana  dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran.Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design) yaitu merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver) membimbing saya untuk memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

➤ FINDINGS (PENEMUAN)

Setelah mempelajari dan menggali kembali materi terkait tahapan BAGJA, saya menemukan penyebab kesulitan yang saya alami untuk menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang ada dilingkungan sekolah saya adalah adanya budaya sekolah yang belum tepat dalam melakukan perubahan. Budaya yang diterapkan hanya fokus kepada permasalahan - permasalahan yang terjadi di sekolah. 

Tahapan proses BAGJA yang telah disusun dapat menjadi sebuah acuan untuk merumuskan kegiatan berikutnya dengan menggunakan metode Amati - Tiru - Modifikasi (ATM). Hal ini menjadi sebuah keuntungan bagi saya ketika harus merumuskan kembali tujuan yang ingin dicapai. Saya dapat melihat dan mereviu ulang bagian mana yang perlu diperbaiki, dan bagian mana yang sudah baik. 

Inkuiri apresiatif yang dilakukan melalui tahapan BAGJA memberikan paradigma baru bagi saya untuk merumuskan visi dengan melakukan perubahan berdasarkan kekuatan positif yang dimiliki oleh sekolah. Kekuatan tersebut tentu saja bersumber dari murid dan lingkungan belajar. Isu utama yang digali bukan lagi mencari permasalahan, namun apa hal - hal baik yang telah dilakukan oleh murid dan lingkungan belajar. 

Kekuatan BAGJA ada pada proses penggalian jawaban pertanyaan yang didasari oleh rasa ingin tahu, kebaikan, dan kebersamaan. BAGJA mewujud menjadi pengalaman kolaboratif yang apresiatif dan bermakna bagi peningkatan kualitas belajar murid di sekolah. BAGJA menjadi alat yang digunakan untuk mencapai visi atau tujuan yang tentunya berpihak pada murid. 

➤ FUTURE (PENERAPAN)

Melalui rangkaian materi yang sudah saya pelajari dalam proses BAGJA, saya berharap sebagai seorang guru penggerak dapat mengaplikasikannya dalam merumuskan sebuah visi atau tujuan yang bermakna dan berpihak pada murid. Keragaman karakteristik murid yang ada di sekolah saya, dapat menjadi saranan bagi saya untuk menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang ada dalam diri setiap murid. 

Tahapan BAGJA menjadi sebuah senjata yang akan saya gunakan dalam melakukan perubahan. Hal baru yang semula saya rasa sulit, namun akhirnya memberi pandangan, pencerahan, dan paradigma baru dalam diri saya. 

Mari terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang memprakarsai perubahan. Dengan satu tujuan, menciptakan pembelajran yang berpihak kepada murid. 

Salam guru penggerak!

Eva Melisda