Selasa, 13 Agustus 2024

Rangkuman Koneksi Antar Materi Modul 3.1



“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert


Ada makna mendalam terselip dalam kutipan kalimat yang disampaikan oleh Bob Talbert diatas. Secara sederhana, kalimat tersebut mengingatkan kita sebagai guru untuk mengajarkan hal - hal yang bersifat berharga/utama dalam menumbuhkan ahlak, karakter, etika murid agar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan lingkungannya, daripada hanya sekedar mengajarkan ilmu dan kecerdasan intelektual semata.

Seorang guru hendaknya menjadi sosok teladan dan panutan dalam segala sikap dan perilakunya, baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun sebagai pengambil keputusan.
Dengan hadirnya seorang guru diharapkan dapat mengembangkan nilai - nilai kebajikan universal dan mengutamakan proses pembelajaran yang berpihak pada murid sesuai dengan tuntunan Pratap Triloka dari Filosofi Ki Hadjar Dewantara.
Bagaimana seorang guru dapat memahami perannya sebagai pemimpin pembelajaran dan pengambil keputusan berdasarkan nilai - nilai kebajikan universal? Pertanyaan - pertanyaan berikut ini akan menjadi tuntunan bagi guru dalam memahami peran tersebut.


1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Seperti kita ketahui bersama, peran seorang guru tidak terlepas dari Pratap Triloka yang merupakan filosofi Ki Hadjar Dewantara, yaitu : Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. semboyan tersebut artinya adalah "di depan memberi teladan", "di tengah membangun motivasi", dan "di belakang memberikan dukungan"
Pratap Triloka menjadi dasar bagi seorang guru dalam menuntun laku murid sesuai kodrat alam dan kodrat jaman. Lalu apa kaitannya Pratap Triloka Ki Hadjar Dewantara dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? Tentu saja Pratap Triloka ini menjadi sumber/acuan seorang guru dalam menentukan langkah - langkah pengambilan keputusan ketika diperhadapkan kepada dilema etika dan bujukan moral. Sebuah keputusan yang diambil oleh guru hendaknya tetap berpihak pada murid dan bermanfaat bagi kepentingan bersama.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam perjalanan sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru hendaknya memiliki nilai - nilai dan prinsip - prinsip yang akan menentukan cara pandang terhadap situasi atau masalah sebelum pengambilan keputusan. Tiga prinsip penting yang berpengaruh terhadap nilai - nilai yang tertanam dalam diri yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Guru yang memiliki empati yang tinggi, rasa kasih sayang dan kepedulian cenderung akan memilih prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli . Sedangkan guru yang memiliki sikap jujur dan komitmen yang kuat untuk tunduk pada peraturan cenderung memilih prinsip Berpikir Berbasis Peraturan . Dan guru yang reflektif dan memiliki jiwa sosial yang tinggi cenderung memilih prinsip Berpikir Berbasis Hasil Akhir.

3. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan dengan pengajaran yang memerdekakan murid yaitu terwujudnya merdeka belajar. Dengan merdeka belajar, setiap murid dapat mencapai kebahagiaannya sesuai bakat minat dan potensinya yang akan menuntun kepada tujuan belajar yang dimiliki setiap murid. Keragaman profil belajar murid menjadi acuan bagi guru untuk memutuskan pembelajaran yang tepat untuk setiap potensi yang dimiliki murid - murid. Dengan merdeka belajar setiap murid dapat memilih dan bertanggung jawab untuk mengembangkan pribadinya dan mencapai masa depan sesuai kodratnya. 

4. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari modul ini dan keterkaitannya dengan modul - modul sebelumnya adalah bahwa keterampilan pengambilan keputusan merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki seorang guru. Kompetensi tersebut tentu saja tidak terlepas dari filosofi Ki Hadjar Dewantara yang bertujuan untuk keselamatan kebahagiaan murid untuk mencapai tujuan hidupnya dimasa yang akan datang. Bukan hanya cerdas secara intelektual, namun juga memiliki karakter profil Pelajar Pancasila yang akan menuntun laku murid menjadi pribadi yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negaranya. 

Sebagai seorang guru sudah sepatutnya menjadi teladan yang selalu mengedepankan etika dan nilai - nilai  kebajikan universal dalam proses pengambilan keputusan. Sehingga setiap keputusan yang dihasilkan dapat dirasakan manfaatnya bagi murid dan selalu mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan. 

Akhirnya, mari terus bergerak menjadi guru yang bukan hanya terampil sebagai pemimpin pembelajaran, namun juga terampil dalam pengambilan keputusan bermakna. 


Salam Guru Penggerak! Tergerak, bergerak, menggerakkan....



Sabtu, 10 Agustus 2024

Jurnal Dwi Mingguan Modul 3.1

Keterampilan Pemimpin Dalam Mengambil Keputusan (Modul 3.1)

*Peristiwa*

Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 10 yang saya ikuti semakin menarik dengan pembahasan materi modul 3.1. Dalam modul ini saya belajar bagaimana mengambil keputusan saat diperhadapkan kepada dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika (benar vs benar) merupakan situasi sulit di mana seseorang harus menentukan pilihan yang secara moral keduanya benar tapi bertentangan dalam mengambil keputusan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) adalah situasi ketika seseorang harus menentukan keputusan antara benar atau salah. Seorang pemimpin harus mampu memahami nilai - nilai kebajikan yang tertuang dalam visi dan misi sekolah, berkepribadian serta berkinerja baik dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, khususnya dalam mengambil suatu keputusan, hendaknya setiap keputusan yang diambil tersebut selaras dengan nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi oleh suatu institusi tersebut, yaitu bertanggung jawab dan berpihak pada murid.

Pada modul ini, saya belajar berkolaborasi dengan rekan CGP dalam merancang tugas pada ruang kolaborasi. Saya juga mengikuti elaborasi pemahaman dan mendapatkan tugas untuk mewawancarai pemimpin sekolah seperti kepala sekolah dan wakil kepala sekolah terkait dilema etika dan bujukan moral yang mereka hadapi dalam pengambilan keputusan.

Ada empat pola paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika, yaitu :1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
Paradigma ini ada pertentangan antara individu lawan sebuah kelompok yang lebih besar, antara kepentingan pribadi lawan kepentingan orang lain, kelompok kecil lawan kelompok besar.

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Dalam paradigma ini, pilihannya adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak
mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk berlaku adil dengan
memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat pengecualian dengan
alasan kemurahan hati dan kasih sayang.

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Paradigma ini memberi pemahaman bahwa kita harus memilih antara jujur atau setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Seringkali kita harus memilih keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini memberi arahan keputusan seperti apa yang akan diambil seorang pemimpin.

Modul 3.1 juga berisi materi yang menuntun saya untuk memahami 9 langkah pengujian pengambilan keputusan, yaitu :

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi tertentu. Dalam menentukan keputusan terkadang ada sesuatu yang harus dikorbankan, dalam situasi tertentu.2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut.
Sebelum mengambil suatu keputusan, pertimbangkan karakter semua orang yang terlibat.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut
Fakta-fakta terkait situasi tertentu harus menjadi pertimbangan juga dalam pengambilan keputusan.

4. Pengujian benar atau salah
Pengujian yang dilakukan bisa berupa uji legal, uji regulasi/standar profesional, uji intuisi, dan uji panutan. Jika hal ini sudah dilakukan, anda bisa memiliki referensi dan cara pandang lebih luas dalam mengambil keputusan

5. Pengujian paradigma benar dan benar
Terkadang dalam suatu kondisi tertentu terdapat pilihan keputusan yang sama-sama dianggap benar. Untuk memilih lakukan pengujian sehingga Anda bisa menitikberatkan kepada salah satu.

6. Melakukan prinsip resolusi
Menerapkan 3 prinsip, yakni End based thinking, Rule based thinking, Care based thinking dalam pengambilan keputusan. Kalau memungkinkan ambil ketiganya tetapi jika tidak, cukup salah satu atau dua.

7. Investigasi Opsi Trilema
Investigasi Opsi Trilema yaitu solusi lain yang tak terduga. Sebelum membuat keputusan, refleksikan diri sendiri terhadap keputusan yang diambil.

8. Buat keputusan
Setelah langkah-langkah di atas sudah selesai, buat keputusan yang bulat.

9. Lihat lagi keputusan itu, lalu refleksikan
Setelah ada sebuah keputusan, Anda tidak serta-merta selesai begitu saja tugasnya. Tinjau dan lihat impak dari keputusan itu, refleksikan, dan diskusikan dengan pihak yang berkaitan.

*Perasaan*

Perasaan saya ketika mengikuti modul 3.1 adalah ada rasa senang dan kuatir. Senang karena saya dapat belajar hal - hal baru terkait pengambilan keputusan, dan kuatir karena mendapatkan tugas untuk mewawancarai pemimpin sekolah. Sebuah pengalaman yang baru bagi saya ketika harus meminta ijin untuk melakukan wawancara tersebut. 

*Penemuan*

Dari serangkaian kegiatan yang saya lakukan dalam modul 3.1, saya menemukan bahwa seorang pemimpin memerlukan keterampilan dalam mengambil keputusan. Dilema etika dan bujukan moral seringkali menjadi elemen yang membuat situasi menjadi rumit dan menimbulkan konflik kepentingan. Pada situasi inilah dibutuhkan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang dibuat dapat memberikan dampak positif bagi pihak - pihak yang terlibat dan tentu saja membawa kebermanfaatan bagi seluruh warga sekolah, terutama murid. 

*Penerapan*

Modul 3.1 merupakan modul yang sangat bermanfaat, menambah wawasan, dan memotivasi saya untuk belajar bagaimana proses pengambilan keputusan yang benar dan sesuai dengan kepentingan bersama dilingkungan sekolah. Sebagai seorang Calon Guru Penggerak, saya wajib memahami dan dapat mengaplikasikan materi dalam modul 3.1 ini secara nyata dalam kegiatan pekerjaan saya sehari - hari sebagai pemimpin pembelajaran. Semangat untuk terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan!






Minggu, 28 Juli 2024

Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.3

 Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.3

Modul 2.3 sangat berkesan bagi saya. Karena dalam modul 2.3 saya belajar bagaimana menjadi supervisor, coach, dan coachee. Tiga fungsi yang selama saya menjadi pendidik belum pernah saya lakukan. Mungkin saya pernah melakukannya secara tidak sengaja, namun belum terfokus. 

Peristiwa 

Pada modul 2.3 saya belajar materi terkait seorang CGP memahami perannya sebagai pemimpin pembelajaran dan menjadi coach bagi guru lain. Materi yang baru bagi saya karena dalam modul ini saya bersama rekan CGP yang lain sama - sama berlatih menjadi supervisor, coach dan coachee. Awalnya kami merasa grogi, canggung, karena belum pernah ada diposisi tersebut. Namun, dengan kolaborasi dan kerjasama yang baik kami dapat melaksanakan praktik coaching dan supervisi dengan maksimal. 


➤ Perasaan

Perasaan saya mengikuti modul 2.3 ini sangat senang. Saya mendapatkan informasi dan pengetahuan baru bahwa ternyata coaching, konseling, mentoring, training, dan supervisi adalah hal yang berbeda. Selama ini saya berpikir bahwa keempat hal tersebut serupa. Namun, setelah saya belajar materi modul 2.3 saya mendapatkan definisi dan penjelasan yang berbeda dari tiap hal tersebut. Saya merasa senang karena saya mendapat wawasan dan pemikiran baru terkait coaching, konseling, mentoring, training, dan supervisi. 


Pembelajaran

Pembelajaran yang saya dapatkan dala modul 2.3 adalah ketika melakukan praktik coaching dan supervisi bersama rekan CGP dalam satu kelompok. Dalam praktik yang kami lakukan, kami belajar bagaimana berperan sebagai supervisor, coach, dan coachee. Dalam setiap peran kami belajar menjiwai karakter masing - masing. Ketika menjadi supervisor, kami belajar menjadi pemimpin dengan pribadi yang dapat mengayomi bawahan. Saat menjadi coach, kami belajar menjadi teman yang dapat membantu rekan untuk menemukan solusi dari sebuah permasalahan tanpa menghakimi. Dan ketika menjadi coachee, kami belajar menjadi pribadi yang membutuhkan teman untuk menemukan solusi dari permasalahan yang kami hadapi dalam pembelejaran. 


Penerapan 

Modul 2.3 menjadi modul yang penting untuk saya terapkan dalam pembelajaran saya. Bukan hanya kepada rekan sejawat, namun juga terhadap siswa. Dimana sebagai seorang calon guru penggerak saya harus mampu membantu rekan guru dan murid untuk menemukan solusi - solusi terbaik dalam setiap proses pembelajaran yang mereka hadapi. Bukan hanya sebagai kewajiban semata, namun menjadi gaya hidup yang selalu saya terapkan dalam kehidupan sehari - hari sehingga saya dapat menjadi seorang guru penggerak yang berperan dan berperilaku sesuai harapan, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi semua orang. 


Sabtu, 06 Juli 2024

Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.2

 

 “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati, adalah bukan pendidikan sama sekali” 

(Aristoteles, Filsuf)


Tepat sekali ungkapan yang dituliskan oleh filsuf Aristoteles tersebut bahwa ketika seorang guru  mengajar atau mendidik muridnya bukan semata - mata hanya membagikan ilmu pengetahuan yang mencerdaskan pikiran, namun juga mendidik hati yang berkaitan dengan pembelajaran keterampilan mengelola sosial emosional. Karena itu, sebagai seorang guru saya  perlu memiliki kompetensi kepribadian dalam hal  mengelola sosial emosional sebelum membagikannya kepada murid - murid.  

 

Modul 2.2 Pendidikan Guru Penggerak mengajarkan saya bagaimana keterampilan mengelola sosial emosional tersebut dipelajari dalam proses pembelajaran. Seperti apa yang disampaikan oleh Bapak Ki Hadjar Dewantara bahwa seorang pendidik adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak,  agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pemikiran KHD tersebut mengingatkan saya bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi mereka untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna. Kita merencanakan secara sadar pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan murid-murid untuk mewujudkan kekuatan (potensinya). Pembelajaran holistik yang memberikan mereka pengalaman untuk dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

 


Gambar diatas memberi pemahaman bagi saya bahwa Pembelajaran Sosial Emosional dapat mempengaruhi peningkatan kompetensi sosial dan emosional, menciptakan lingkungan belajar yang suportif, dan peningkatan sikap pada diri sendiri dengan menunjukkan sikap respek dan toleran terhadap orang lain dan lingkungan sekolah. Ketika ketiga hal tersebut terjadi, maka akan diperoleh hasil terkait peningkatan perilaku positif, pengurangan perilaku negatif, pengirangan tingkat stress, dan peningkatan performa akademik murid. Pembelajaran sosial emosional melatih murid untuk mengembangkan dan mengasah  kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri mereka masing - masing. 

 

Selain belajar dari modul 2.2, kami juga dibekali dengan eksplorasi konsep. Dimana irisan - irisan materi dari eksplorasi konsep semakin mempertajam keterampilan saya sebagai seorang guru untuk memahami, menggali dan menemukan berbagai kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri siswa. Melalui eksplorasi konsep tersebut, saya dan rekan - rekan CGP lainnya berdiskusi secara daring untuk saling bertukar ide dan pendapat terkait pembelajaran sosial emosional. Banyak pencerahan yang saya dapatkan ketika saya mengeksplorasi setiap konsep materi yang disajikan.

 

Setelah eksplorasi konsep kami pelajari, kami melakukan elaborasi pemahaman bersama instruktur yang ditunjuk. Elaborasi pemahaman dilakukan secara virtual dalam ruang daring. Walaupun kami tidak dapat bertemu secara langsung dengan instruktur kami, namun kami terfasilitasi dengan pertemuan dalam bingkai daring tersebut. Melalui elaborasi pemahaman ini, kami dapat bertanya jawab terkait hal - hal penting yang ada dalam materi pembelajaran sosial emosional. Saya sangat senang mendengar penjelasan dan contoh - contoh dari instruktur yang memberi penguatan kepada kami untuk termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran sosial emosional. 

 

Kegiatan yang kami lakukan selanjutnya adalah berbagi pendapat dalam ruang kolaborasi, membuat demonstrasi kontekstual, dan merancang aksi nyata. Dalam ruang kolaborasi, saya berada dalam satu kelompok dengan sesama rekan CGP yang bertugas di SMP. Dalam ruang kolaborasi ini kami berdiskusi dalam kelompok terkait langkah - langkah pembelajaran di kelas yang menerapkan pemberlajaran sosial emosional untuk menggali kompetensi sosial emosional yang dimiliki oleh murid. 

 

Dengan mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya mendapati bahwa peran guru sebagai seorang pendidik bukan hanya memastikan bahwa murid - muridnya memiliki kecerdasan dalam hal akademik, namun juga memperhatikan perkembangan kompetensi sosial emosional. Ada 5 kompetensi sosial emosional yang perlu dimiliki oleh murid, yaitu : kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Melalui modul 2.2 ini saya berharap dapat menjadi seorang guru yang dapat mendampingi dan menuntun murid - murid saya menemukan kompetensi sosial emosional yang perlu dikembangkan dalam dirinya melalu pembelajaran sosial emosional yang saya sampaikan. Sehingga murid - murid saya bertumbuh menjadi pribadi yang selamat dan bahagia serta bermanfaat bagi masyarakat. Mari terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Salam Guru Penggerak!!

 

Eva Melisda

Sabtu, 22 Juni 2024

Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.1

Ke Bekasi bersama Ratu
Jangan lupa membeli kaca 
Terimakasih modul  satu 
Kini saya tiba di modul dua 

 


Wow, sungguh menyenangkan rasanya bisa mengakhiri modul satu dan bergerak menuju modul dua. Pengalaman belajar tentang filosofi KHD menjadi fondasi utama untuk melanjutkan materi di modul dua. Pada modul dua, kami belajar tentang bagaimana merancang pembelajaran berdiferensiasi didalam kelas. Kita telah belajar bersama dalam modul satu bahwa setiap anak memiliki kemampuan belajar yang beragam sesuai kodratnya. Karena itu, pembelajaran berdiferensiasi menjadi sebuah instrumen yang dapat memfasilitasi keragaman murid untuk dapat bertumbuh dan berkembang bersama sesuai kodratnya. 

Modul dua diawali dengan sebuah pertanyaan pemantik sebagai refleksi individu terkait gambaran murid didalam kelas yang saya ampu. Ketika menjawab pertanyaan tersebut, saya membayangkan murid - murid saya dengan kebutuhan belajar yang berbeda - beda. Ada murid yang cepat dalam menerima materi pelajaran, ada yang sedang, bahkan ada juga yang lebih lambat. Mereka juga memilki keberagaman darlam latar belakang keluarga, ekonomi, suku dan budaya, agama, warna kulit, dan sebagainya. Sebagai guru, saya harus bisa memfasilitasi keragaman tersebut sebagai cara menuntun mereka untuk menemukan keselamatan dan kebahagiaannya. 

Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi? Awalnya saya berpikir bahwa pembelajaran berdiferensiasi dimaknai dengan guru memberikan berbagai instrumen dan asesmen yang berbeda kepada setiap murid. Artinya, guru yang memilih model belajar seperti apa yang cocok untuk murid. Namun, setelah mempelajari materi dalam modul dua ini, saya memahami bahwa pembelajaran berdiferensiasi memilki arti yaitu serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Jadi, bukan guru yang menyesuaikan proses pembelajaran sesuai kebutuhan murid, namun guru berupaya secara konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. 

Pembelajaran berdiferensiasi bukan mengelompokkan murid yang pintar dengan yang pintar atau yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda kepada setiap murid, atau merancang proses pembelajaran yang berbeda untuk setiap murid. Jika hal ini terjadi, maka guru akan mengalami tekanan dan kejenuhan yang tinggi, bahkan dapat mengakibatkan stress maupun depresi. pembelajaran berdiferensiasi yang berorientasi kepada kebutuhan belajar murid hendaknya mengandung aspek keputusan - keputusan yang terkait dengan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif, dan penilaian berkelanjutan. 

Aspek  keputusan - keputusan akan kebutuhan belajar murid tersebut dapat kita simpulkan menjadi :

1. Kesiapan belajar (readiness) murid
2. Minat murid 
3. Profil belajar murid

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. Informasi terkait kesiapan belajar murid dapat kita peroleh dengan melakukan asesmen awal sebelum materi pembelajaran disampaikan. Asesmen awal bertujuan untuk melakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran. Sehingga, dapat dipastikan setiap murid terpenuhi kebutuhan belajarnya. Kesiapan belajar murid dapat dikelompokkan menjadi : 
  • Bersifat mendasar vs Bersifat transformatif
  • Konkret vs Abstrak
  • Sederhana vs Kompleks 
  • Terstruktur vs Terbuka
  • Tergantung vs Mandiri 
  • Lambat vs Cepat 

Minat murid merupakan suatu keadaan mental yang menhasilkan respons terarah kepada situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberi kepuasan diri. Minat dapat kita lihat dalam dua perspektif yaitu minat situasional dan minat individu. Minat situasional menimbulkan ketertarikan dan rasa ingin tahu karena situasi. Mungkin cara guru membawakan materi, media ajar yang menarik, atau materi yang menimbulkan rasa ingin tahu membuat murid tertarik untuk menyimak sebuah topik walaupun murid tersebut kurang menyukai topik tersebut. Sedangkan minat individu adalah minat yang dapat dilihat sebagai sebiah kecenderungan individu untuk terlibat dalam jangka waktu lama dengan objek atau topik tertentu. Jika seorang anak memiliki ketertarikan terhadap topik lingkungan alam, maka ia akan tetap tertarik untuk mempelajarinya walaupun guru yang mengajar tidak membawakannya dengan cara menarik atau menghibur. 

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, diantaranya : Preferensi terhadap lingkungan belajar, Pengaruh budaya, Preferensi gaya belajar, dan Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk. 

Kita dapat merancang pembelajaran berdiferensiasi setelah kita memperoleh informasi aspek kebutuhan belajar murid dan melakukan pemetaan. Selanjutnya, hasil pemetaan tersebut menjadi dasar bagi seorang guru untuk menentukan pembelajaran berdiferensiasi seperti apa yang direncakan? Apakah diferensiasi konten, proses, atau produk? Apapun pembelajaran berdiferensiasi yang direncanakan oleh seorang guru hendaknya dapat memfasilitasi murid untuk menemukan tujuan belajarnya dan memiliki karakter profil pelajar Pancasila dalam setiap lakunya. 

Selain materi yang kami pelajari dalam modul dua, kami juga dibekali dengan pengalaman - pengalaman instruktur dan tim fasilitator dalam mendampingi kegiatan kami. Berbagai praktik baik yang disamapaikan, memberikan pencerahan dan semangat baru bagi kami untuk merancang proses pembelajaran berdiferensiasi yang bermakna bagi murid. 

Dari apa yang saya pelajari diawal pembelajaran modul dua, saya mendapat pemahaman baru bagaimana melakukan pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dengan kebutuhan murid. Sehingga sebagai seorang guru, saya dapat menuntun murid - murid saya menemukan tujuan hidupnya secara lahir dan batin, serta memperoleh keselamatan dan kebahagiaan dalam tumbuh kembangnya. Pada akhirnya murid - murid saya menjadi pribadi yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya, namun juga masyarakat, bangsa, dan negaranya. 


Selamat berjuang para guru hebat untuk menuntun murid - murid! Tergerak, bergerak, menggerakkan...

Salam guru penggerak,

Eva 
CGP A10




Sabtu, 25 Mei 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4

 Salam Guru Penggerak!

Tanpa terasa Program Guru Penggerak sudah masuk di Modul 1.4. Modul yang bagi saya amat sangat membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena materi yang harus dipelajari sudah semakin mendalam. Modul 1.4 masih membahas tentang filosofi Ki Hadjar Dewantara dan penerapannya dalam proses pembelajaran sehari - hari. Penasaran apa saja yang saya dapatkan di modul ini? Yuk, simak pengalaman saya berikut ini.

FACTS (PERISTIWA)

Modul 1.4 membawa saya untuk mengenal dan memahami bagaimana proses menciptakan lingkungan positif yang mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia,mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara. Dalam modul ini saya diingatkan kembali bahwa seorang pendidik diibaratkan sebagai seorang petani yang menabur benih tanaman. Petani hanya dapat menuntun proses tumbuhnya sebuah benih dengan menyiram, memberi pupuk, memperbaiki kondisi tanah, membasmi hama dan ulat - ulat. Namun petani tidak dapat memaksakan benih sebuah jenis tanaman tumbuh menjadi jenis tanaman lainnya. Petani tidak dapat memaksa padi tumbuh menjadi kedelai, begitupun sebaliknya. 

Filosofi ini  menyadarkan saya bahwa untuk menciptakan lingkungan positif bagi murid, kita perlu mengingat kembali keberagaman karakter, bakat minat, dan latar belakang kehidupan sosial yang dimiliki oleh setiap murid. Karena itu lingkungan positif yang direncanakan harus menjadi sebuah budaya yang dapat memotivasi murid menjadi pribadi yang lebih baik, mengalami kemajuan dalam berpikir dan bertindak dengan berbahagia dan tanpa beban. Lingkungan positif yang terbentuk juga harus menjadi sebuah budaya yang membawa murid memahami bagaimana menerapkan disiplin diri dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.


FEELINGS (PERASAAN)

Pada saat mempelajari Modul 1.4 ini saya membayangkan bagaimana lingkungan positif dapat mengubah murid - murid saya menjadi pribadi yang beriman, berahlak mulia, mandiri dan bertanggung jawab. Tidak ada lagi bullying, merasa lebih hebat dari yang lain, tidak peduli kepada orang tua dan guru. Saya memimpikan murid - murid yang hebat bukan hanya secara akademik namun juga dalam karakter dan kepribadian sesuai profil pelajar Pancasila. 

Materi dalam modul ini membuat saya bersemangat untuk melakukan perubahan. Walaupun saya menyadari bahwa bukan hal yang mudah untuk menciptakan lingkungan positif di sekolah. Pasti banyak tantangan dan rintangan. Namun saya yakin, dengan semangat dan hati yang ikhlas serta kesadaran diri sebagai seorang calon guru penggerak, pasti setiap tantangan dan rintangan dapat saya hadapi dengan dukungan pimpinan dan rekan - rekan sejawat. 


FINDINGS (PENEMUAN)

Sebuah pencerahan yang saya dapatkan adalah ketika saya bersama teman kelompok melakukan diskusi dari beberapa kasus yang disajikan dalam modul. Ada empat kasus yang biasa terjadi di sekolah yang harus kami amati dan analisa sebagai bahan pembelajaran yang bermakna dalam mendukung lingkungan positif yang akan kami ciptakan selanjutnya di sekolah kami masing - masing. Keempat kasus tersebut memang kami dapati kerap terjadi antara guru dengan murid dilingkungan sekolah. 

Dari empat kasus tersebut saya menemukan ada 3 motivasi perilaku manusia yang menjadi alasan untuk melakukan sesuatu, yaitu : untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai - nilai yang mereka percayai. Tiga motivasi ini memberikan pemahaman baru kepada saya bahwa ketika saya mempercayai nilai - nilai yang benar dan positif dalam perilaku saya, maka saya akan dapat menghargai diri saya sebagai pribadi ciptaan Tuhan yang mulia. Demikian juga dengan murid - murid saya pastinya dapat mengalami terobosan pemikiran yang sama apabila saya menjadi contoh dan teladan bagi mereka. 

Hal lain yang saya temukan dari materi ini adalah pemahaman akan perbedaan istilah hukuman, konsekuensi, dan restitusi. Saya menyadari bahwa sekitar 70% disiplin yang saya lakukan selama ini terhadap siswa lebih kearah hukuman dan konsekuensi. Hal ini membuat murid - murid saya kurang menerapkan disiplin dengan kesadaran dan rasa tanggungjawab. Mengapa demikian? Karena murid hanya menjalankan sebuah kedisiplinan dengan pola pikir seperti robot. Mereka bertindak dengan monoton karena takut berasalah dan mendapat hukuman atau konsekuensi. 

Restitusi menjadi sebuah gaya yang harus diterapkan ketika seorang guru berhadapan dengan murid yang melakukan kelalaian dalam disiplin. Restitusi mengajak murid untuk menemukan sebuah kebenaran dari kesalahan dan kelalaian yang dilakukan tanpa menghakimi atau menyudutkan murid. Ini menjadi sebuah terobosan baru dalam pemikiran saya ketika berhadapan dengan murid - murid di sekolah. Restitusi bukan hanya menunjukkan sebuah kesalahan yang dilakukan murid, namun juga memberi ruang bagi murid untuk menemukan solusi dari kesalahan tersebut dan bertanggung jawab melaksanakan keputusan yang telah disepakati. Guru menjadi pribadi yang memotivasi murid untuk bergerak kearah yang benar dari sebuah pengalaman akan kesalahan. 


FUTURE (PENERAPAN)

Akhirnya, pembelajaran yang saya terima dari Modul 1.4 ini memberi arahan yang baru bagaimana menciptakan lingkungan positif yang berpihak pada murid. Saya tidak lagi melihat murid sebagai obyek yang hanya menerima ilmu dari guru, namun betul - betul melihat mereka sebagai manusia seutuhnya yang memiliki pikiran dan perasaan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang mulia. 

Restitusi menjadi sebuah alat bagi saya untuk menciptakan lingkungan positif di sekolah saya. Saya ingin menjadi guru yang dapat membawa murid saya menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab, cerdas dalam akademik dan karakter, beriman dan berakhlak mulia, serta memiliki kesadaran penuh akan pilihan - pilihan yang benar dalam hidupnya. Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi masyarakat dan bangsanya.

Salam guru penggerak, salam dan bahagia!

Eva 









Sabtu, 04 Mei 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3

 Salam guru penggerak! Salam dan bahagia. 

Modul 1.3 memaparkan materi bagaimana seorang guru penggerak menjadi pemimpin pembelajaran yang memiliki visi. Dikatakan, Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi memang belum terjadi saat ini, namun begitu kuat kita inginkan untuk terwujud di masa depan. Visi adalah representasi visual kita akan masa depan. Penggambaran visi yang jelas tentang keadaan di masa depan dapat membantu kita untuk merencanakan dan menyelaraskan upaya-upaya mewujudkannya. Melalui tulisan ini saya akan membagikan bagimana pengalaman saya ketika mengikuti materi dalam modul 1.3 dengan model 4F. Selamat menyimak..

➤ FACTS (PERISTIWA)

Modul 1.3 mengantar saya untuk berperan sebagai prakarsa perubahan dengan kekuatan positif yang dimiliki oleh lingkungan belajar, bukan lagi mencari apa permasalahan yang terjadi. Dibutuhkan sebuah visi untuk mewujudkan perubahan positif dalam lingkungan belajar. Perubahan tersebut tentunya diawali dengan perubahan budaya lingkungan belajar (sekolah). Perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa memiliki visi, karena visi akan membawa kita kepada sebuah tujuan dan cita - cita dimasa depan. 

Sebelum merumuskan sebuah visi, seorang pemimpin pembelajaran sekaligus pemimpin perubahan harus melakukan sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Melalui modul ini saya menemukan dan memahami sebuah konsep pendekatan yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). 

Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

Inkuiri Apresiatif dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan kearah lebih baik. Untuk menerapkan IA sebagai model manajemen perubahan, dapat diterapkan melalui tahapan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). BAGJA diambil dari sebuah istilah dalam bahasa Sunda, yang berarti Bahagia. 

➤ FEELINGS (PERASAAN)

Awalnya saya merasa kesulitan saat memahami tahapan BAGJA. Saya sulit sekali menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang telah ada di sekolah saya. Karena itu, untuk lebih memahami tahapan BAGJA, saya membaca kembali penjelasan materi yang dipaparkan pada modul 1.3 ini. Kemudian saya menggali lebih dalam setiap tahap demi tahap sampai saya memahami apa saja yang harus saya lakukan. 

Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama (Define). Di tahap ini, saya dituntun untuk merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover) mengajak saya untuk  mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream) saya mempelajari bagaimana  dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran.Tahap ketiga, Jabarkan Rencana (Design) yaitu merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver) membimbing saya untuk memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

➤ FINDINGS (PENEMUAN)

Setelah mempelajari dan menggali kembali materi terkait tahapan BAGJA, saya menemukan penyebab kesulitan yang saya alami untuk menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang ada dilingkungan sekolah saya adalah adanya budaya sekolah yang belum tepat dalam melakukan perubahan. Budaya yang diterapkan hanya fokus kepada permasalahan - permasalahan yang terjadi di sekolah. 

Tahapan proses BAGJA yang telah disusun dapat menjadi sebuah acuan untuk merumuskan kegiatan berikutnya dengan menggunakan metode Amati - Tiru - Modifikasi (ATM). Hal ini menjadi sebuah keuntungan bagi saya ketika harus merumuskan kembali tujuan yang ingin dicapai. Saya dapat melihat dan mereviu ulang bagian mana yang perlu diperbaiki, dan bagian mana yang sudah baik. 

Inkuiri apresiatif yang dilakukan melalui tahapan BAGJA memberikan paradigma baru bagi saya untuk merumuskan visi dengan melakukan perubahan berdasarkan kekuatan positif yang dimiliki oleh sekolah. Kekuatan tersebut tentu saja bersumber dari murid dan lingkungan belajar. Isu utama yang digali bukan lagi mencari permasalahan, namun apa hal - hal baik yang telah dilakukan oleh murid dan lingkungan belajar. 

Kekuatan BAGJA ada pada proses penggalian jawaban pertanyaan yang didasari oleh rasa ingin tahu, kebaikan, dan kebersamaan. BAGJA mewujud menjadi pengalaman kolaboratif yang apresiatif dan bermakna bagi peningkatan kualitas belajar murid di sekolah. BAGJA menjadi alat yang digunakan untuk mencapai visi atau tujuan yang tentunya berpihak pada murid. 

➤ FUTURE (PENERAPAN)

Melalui rangkaian materi yang sudah saya pelajari dalam proses BAGJA, saya berharap sebagai seorang guru penggerak dapat mengaplikasikannya dalam merumuskan sebuah visi atau tujuan yang bermakna dan berpihak pada murid. Keragaman karakteristik murid yang ada di sekolah saya, dapat menjadi saranan bagi saya untuk menemukan kekuatan positif berupa hal baik yang ada dalam diri setiap murid. 

Tahapan BAGJA menjadi sebuah senjata yang akan saya gunakan dalam melakukan perubahan. Hal baru yang semula saya rasa sulit, namun akhirnya memberi pandangan, pencerahan, dan paradigma baru dalam diri saya. 

Mari terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang memprakarsai perubahan. Dengan satu tujuan, menciptakan pembelajran yang berpihak kepada murid. 

Salam guru penggerak!

Eva Melisda 








Sabtu, 20 April 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2

 Salam guru penggerak, salam dan bahagia!

Tanpa terasa sudah dua pekan lagi terlewati bersama Pendidikan Guru Penggerak. Selama dua pekan ini banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang saya rasakan melalui Modul 1.2 tentang Nilai - Nilai dan Peran Guru Penggerak. Setelah memahami Filosofi Ki Hajar Dewantara, kami diajak untuk bergerak memahami lebih jauh apa saja yang menjadi nilai - nilai dan peran guru penggerak. Seperti apa pengalaman yang saya rasakan? Yuk, ikuti terus tulisan saya dalam Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 berikut ini. 

➤ FACTS (PERISTIWA)

Modul 1.2 dimulai dengan sebuah materi pengantar yang berisi petunjuk apa saja yang akan dipelajari dalam modul tersebut, dan tentu saja dengan kerangka kegiatan yang menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi konstekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, Aksi nyata). 

Pada bagian pengantar, diawali dengan tayangan sebuah video dari instruktur Bapak Aditya Dharma tentang nilai - nilai dan peran guru penggerak. 


Tidak hanya tayangan video, dibagian pengantar ini juga disematkan surat dari instruktur, capaian yang diharapkan, capaian pembelajaran umum, dan capaian pembelajaran khusus. 

Setelah saya mengikuti bagian pengantar, selanjutnya saya membaca bahan pembelajaran yang disajikan dalam bentuk pdf tentang Dokumen Model Kepemimpinan Sekolah. Dokumen ini berisi kategori, struktur, dan kompetensi kepemimpinan sekolah. 


Selanjutnya, setiap Calon Guru Penggerak diajak untuk belajar membuat Trapesium Usia. Apa sih Trapesium Usia itu? Trapesium Usia adalah sebuah diagram yang menggambarkan pengalaman dimasa lalu tentang peristiwa positif dan negatif yang pernah dialami dan dampaknya bagi kehidupan seseorang dimasa yang akan datang. Pada bagian ini, saya membuat sebuah trapesium usia terkait diri saya seperti dibawah ini. 

Wah, semakin menarik ya apa yang saya pelajari dalam Pendidikan Guru Penggerak ini. Pasti rekan - rekan penasaran kan apa lagi pengalaman yang saya alami selanjutnya? Simak dan ikuti terus ya....

Setelah berlatih membuat Trapesium Usia, materi selanjutnya adalah kami dibekali dengan eksplorasi konsep tentang hubungan antara emosi, cara kerja otak, kebutuhan dasar manusia, daya untuk memilih, motivasi instrinsik, dan struktur sistemik lingkungan dalam pembentukan nilai - nilai dalam diri seseorang. Pada bagian ini, saya sebagai seorang Calon Guru Penggerak juga diminta untuk menjelaskan makna Profil Pelajar Pancasila, makna nilai - nilai dan peran guru penggerak, dan makna pemimpin pembelajaran. Materi pada bagian ini juga dilengkapi dengan video cara kerja otak, yaitu bagaimana sistem kerja otak berpikir cepat dan lambat, gambar perumpamaan otak manusia menggunakan tangan, diagram lima kebutuhan dasar manusia, serta diagram tahap tumbuh kembang anak. Semakin mendalam bukan pengetahuan dan pengalaman yang saya terima melalui materi dibagian ini?

Tibalah saatnya saya masuk kedalam forum diskusi tertulis virtual bersama fasilitator hebat yaitu Ibu Suspeni. Ibu Suspeni memberikan materi penguatan kepada kami tentang apa saja nilai - nilai dan peran guru penggerak.  Pada forum diskusi tertulis, kami dibagi menjadi tiga kelompok diskusi untuk merancang satu kegiatan terkait kekuatan nilai dan peran guru penggerak yang dimiliki oleh kelompok kami. Saya ada didalam kelompok tiga bersama Ibu Azmy  dan Ibu Dora. Di kelompok tiga kami merancang kegiatan pameran hasil karya dengan nilai kolaboratif dan peran kepemimpinan murid menggunakan aplikasi Canva. 



Dalam pertemuan virtual selanjutnya, kami mempresentasikan rancangan kegiatan kami. Tiap kelompok belajar dan berusaha untuk menyampaikan rancangan yang telah kami diskusikan dalam kelompok sebagai sebuah langkah untuk mengaplikasikan kekuatan nilai dan peran guru penggerak. Kegiatan presentasi ini sangat menyenangkan dan penuh semangat. Tidak hanya mempresentasikan rancangan kegiatan, namun kami juga belajar memberikan umpan balik positif kepada setiap rekan - rekan kami yang telah berusaha menampilkan yang terbaik. Ibu Suspeni sebagai fasilitator juga memberikan umpan balik positif terhadap hasil karya kami. Bahkan beliau menuntun kami dengan memberi masukan bagian mana dari rancangan kami yang perlu diperbaiki atau ditambahkan. 

Setelah selesai presentasi, kami juga menulis sebuah surat ucapan terimakasih kepada rekan dalam  kelompok karena telah menginspirasi dan memotivasi dengan kekuatan nilai dan peran yang dia miliki. Sangat menarik bukan? 




➤ FEELINGS (Perasaan)

Berbeda ketika saya mengikuti Modul 1.1. Dalam pembelajaran Modul 1.2 ini saya merasa lebih siap dalam mengelola waktu saya untuk mengajar dan megerjakan tugas - tugas yang diberikan. Saya tidak lagi berpikir apakah saya mampu mengikuti kegiatan pendidikan guru penggerak dengan baik atau tidak. Justru saya lebih termotivasi untuk belajar lebih dan lebih lagi secara mendalam agar saya dapat menjadi pribadi yang sungguh - sungguh memiliki karakter pendidik sebagaimana yang dimaksud oleh Ki Hajar Dewantara. 

Pengalaman - pengalaman baru yang saya dapatkan, terobosan pola pikir yang saya terima, bahkan pencerahan paradigma yang saya alami sendiri, menjadikan saya pribadi yang mulai belajar untuk selalu  menerapkan konsep pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya mulai menyadari bahwa nilai dan peran guru penggerak yang ada dalam diri saya adalah sebuah kekuatan untuk saya mengembangkan rancangan pembelajaran yang kreatif inovatif bersama murid dan rekan - rekan guru di sekolah tempat saya mengabdi. Kegiatan modul 1.2 sangat memotivasi pribadi saya. 

➤ FINDINGS (Penemuan)

Melalui pembelajaran Modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, saya juga menemukan bahwa setiap otak manusia memiliki sistem kerja cepat dan lambat. Sistem ini ternyata sangat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan manusia baik didalam keluarga maupun masyarakat. Saya juga mendapat pemahaman baru bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar. Salah satunya adalah kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima. 

Penemuan - penemuan ini menjadi sebuah refleksi bagi saya ketika berhadapan dengan murid saya di kelas. Saya mulai belajar menggali karakter dan kecepatan setiap murid saya dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Dan sangat mengagumkan bahwa apa yang saya pelajari dalam Modul 1.2 ini memang sangat bermanfaat. Saya tidak lagi dengan mudah berpikir dan menyimpulkan sesuatu tentang murid saya. Justru ketika saya mendapati perilaku yang kurang baik dari murid saya, menjadi sebuah tantangan bagi saya untuk mengidentifikasi lebih dalam mengapa hal tersebut bisa terjadi. 

Pada akhirnya konsep memandang murid sebagai manusia sesuai kodratnya menjadi hal yang sangat penting bagi saya dalam melakukan pembelajaran di kelas bersama murid saya, dan menjadikan saya pribadi yang sungguh - sungguh termotivasi untuk menuntun murid saya menemukan kodratnya sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara. 

➤ FUTURE (Penerapan)

Sekarang, langkah apa yang harus saya lakukan agar dapat terus memahami nilai dan peran saya sebagai guru penggerak?

Tentu saja saya harus selalu melakukan refleksi terhadap diri saya. Ketika saya mengajar, bertemu dengan murid, bekerjasama dengan rekan guru lainnya, saya harus memiliki pola pikir bahwa sebagai seorang guru penggerak saya harus menjadi pemimpin pembelajaran dan pemimpin perubahan. 

Dengan pengalaman positif dan negatif dimasa lalu, pengetahuan sistem kerja otak, dan pemahaman lima kebutuhan dasar dalam diri, pastinya akan menjadikan saya seorang guru penggerak yang memiliki karakter profil Pancasila. Saya tidak lagi melakukan hal negatif yang sama seperti yang pernah saya alami ketika bersekolah dimasa lalu. Tetapi saya boleh menjadi pribadi yang terus memandang murid saya adalah generasi yang sedang dalam masa proses menuju generasi emas. Dengan demikian saya pun dapat menuntun setiap murid saya untuk menjadi murid yang berkarakter profil pelajar Pancasila. Saya akan terus bergerak melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Satu hal sederhana yang akan saya lakukan adalah membuat rancangan kegiatan yang dapat memfasilitasi murid saya untuk menuangkan setiap bakat minat dan karya mereka dengan kekuatan nilai dan peran guru penggerak yang saya miliki. Mari terus tergerak, bergerak dan menggerakkan. 

Salam guru penggerak, salam dan bahagia...


Eva 


















Sabtu, 30 Maret 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1 (Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara)

Salam guru penggerak!

Tulisan ini adalah jurnal dwi mingguan pertama yang saya buat sebagai refleksi pribadi untuk modul 1.1 tentang Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). 

➤ FACTS (Peristiwa)

Rasanya masih belum percaya ketika saya menerima informasi kelulusan seleksi guru penggerak dari laman SIMPKB yang terpampang di layar laptop saya. Setelah dua kali gagal dalam seleksi guru penggerak Angkatan 5 dan 7, rasanya sulit sekali untuk lulus di Angkatan 10. Bahagia, senang, dan bangga, itulah yang saya rasakan setelah mengingat kembali bagaimana sulitnya perjuangan menghadapi berbagai tes kompetensi yang diwajibkan. 



Setelah menerima informasi kelulusan, kegiatan selanjutnya adalah pembukaan pendidikan guru penggerak Angkatan 10 oleh Ibu Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. sebagai Dirjen GTK dan Bapak Dr. Kasiman sebagai Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan. Dalam pembukaan ini seluruh calon guru penggerak diberikan penguatan sebelum melaksanakan pendidikan guru penggerak. 


Selanjutnya seluruh CGP A10 mengikuti sosialisasi aktivasi akun LMS yang difasilitasi oleh BBPMP Jawa Tengah yaitu Bapak Pujiadi. Bersama tim, beliau menjelaskan langkah - langkah yang harus dilakukan dalam proses aktivasi LMS. Kami juga diberikan kesempatan untuk mencoba melakukan demo cara aktivasi akun LMS tersebut. Dalam pendidikan guru penggerak angkatan 10, akun LMS yang digunakan terhubung langsung dengan Platform Merdeka Mengajar. Sehingga seluruh peserta wajib memiliki akun belajar.id sebagai syarat untuk dapat membuka akun LMS tersebut. 


Pada tanggal 19 Maret 2024, saya kembali masuk kedalam kelas daring yang difasilitasi oleh Ibu Suspeni dari BBGP DIY. Nama ruang kelas daring kami adalah PGP. 10.088. Dalam pertemuan ini kami saling memperkenalkan diri dan menyebutkan sekolah asal kami masing - masing. Disini Ibu Suspeni menyampaikan materi tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menjadi filosofi pendidikan. Seluruh peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan memberikan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. Pada pertemuan ini, hadir juga pengajar praktik kami yaitu Ibu Mintauli Banjarnahor. 


Keesokan harinya, Rabu, 20 Maret 2024, kami kembali bertemu didalam kelas daring untuk berdiskusi dan berkolaborasi terkait materi yang telah disampaikan oleh Ibu Suspeni yaitu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Dalam kegiatan ini kami merancang sebuah materi presentasi kelompok terkait kekuatan konteks sosio - kultural di wilayah masing - masing. Dalam hal ini khususnya di provinsi DKI Jakarta. Setiap anggota kelompok mengemukakan ide dan pemikirannya untuk dapat dituangkan dalam desain presentasi. 

Akhirnya, tiba waktunya bagi kelompok kami untuk mempresentasikan hasil diskusi dan kolaborasi yang kami tuangkan dalam sebuah rancangan presentasi kelompok. Masing - masing anggota menjelaskan materi presentasi sesuai bagiannya. Didalam kelas kami ada dua kelompok yang diketuai oleh Pak Ridho dan Ibu Nelly. Dalam ruang presentasi ini juga diberikan kesempatan bagi anggota kelompok lain untuk bertanya secara positif atau memberikan pendapat yang membangun. Kemudian Ibu Suspeni sebagai fasilitator memberikan umpan balik untuk kedua kelompok. Selanjutnya, materi presentasi tersebut kami unggah kedalam tugas yang telah disediakan pada akun LMS. 


Setelah beberapa kali mengikuti pertemuan daring, seluruh CGP A10 bertemu dalam lokakarya orientasi. Lokakarya dilaksanakan pada Sabtu, 23 Maret 2024. Lokakarya ini mengundang juga pendamping dari setiap CGP, baik kepala sekolah maupun guru yang ditugaskan. Dalam lokakarya ini setiap peserta akhirnya dapat bertemu langsung secara bertatap muka dengan peserta lain dan pengajar praktik. Pembukaan lokakarya dilaksanakan didalam aula SMKN 26 Rawamangun. Setelah pembukaan lokakarya, selanjutnya setiap CGP bersama pendamping masuk kedalam kelas masing - masing. 


Didalam kelas, setiap CGP dan pendamping saling berkenalan dan membuat kesepakatan kelas. Pendamping juga memberikan komitmen dan dukungan setiap CGP di sekolah masing - masing untuk terus bergerak maju sampai pendidikan guru penggerak selesai. 


Setelah mendapat dukungan dan penguatan dari setiap pendamping, saya dan teman - teman kembali melanjutkan kegiatan diskusi dan pengerjaan tugas dengan didampingi oleh pengajar praktik yaitu Ibu Mintauli Banjarnahor. 

FEELINGS (Perasaan)

Beragam hal yang saya rasakan saat mulai mengikuti kegiatan pendidikan guru penggerak. Disatu sisi saya sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian transformasi pendidikan seperti yang digaungkan oleh Bapak Ki Hajar Dewantara. Disisi lain ada kegelisahan dalam hati apakah saya sanggup mengikuti kegiatan ini sampai akhir mengingat waktu pelaksanaan yang cukup lama yaitu selama 6 bulan. Saya kuatir tidak dapat membagi waktu mengajar dengan tugas - tugas yang diberikan. Selain itu saya juga memikirkan bagaimana perhatian terhadap keluarga karena program pendidikan guru penggerak ini pasti menyita waktu, tenaga, dan pikiran. 

Namun, saya yakin dengan doa dan niat yang baik pasti semua akan dapat saya lewati dengan baik. Untuk itu saya selalu berusaha menjaga kesehatan saya, mengelola waktu saya dengan baik agar tanggung jawab saya sebagai guru, istri, dan ibu tidak terbengkalai. Saya juga belajar menemukan cara - cara terbaik yang bisa saya lakukan untuk tetap seimbang dalam melaksanakan tugas tanggung jawab saya. Saya berupaya melakukan diskusi dengan keluarga, rekan kerja, dan komunitas kerohanian ketika membutuhkan nasihat atau solusi. 

Seperti apa yang disampaikan oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa guru adalah penuntun dan pembimbing murid dalam menemukan tujuan hidupnya sesuai kodrat alam dan kodrat zaman, saya sangat yakin bahwa saya adalah salah satu agen perubahan pendidikan yang telah dipilih dan diperlengkapi oleh Tuhan. Karena itu saya harus belajar menerima kehormatan ini dengan sebaik - baiknya. 

FINDINGS (Penemuan)

Melalui pembelajaran modul 1.1 tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, saya menemukan pemikiran baru yang selama ini belum pernah terlintas dalam hati saya. Materi mulai dari diri menjadi tonggak dimulainya tekad dan semangat yang baru dalam diri saya untuk melakukan transformasi pendidikan. Yang tadinya saya berpikir bahwa siswa hanya sebuah objek yang perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan saja, berganti menjadi siswa adalah benih - benih yang perlu dirawat agar tumbuh menjadi pohon yang menghasilkan buah yang baik. 

Enam dasar prinsip pemikiran Ki Hajar Dewantara menyadarkan saya bahwa siswa harus dituntun sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Sebagai guru tugas saya bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan materi pembelajaran, namun juga menanamkan budi pekerti yang dapat mengasah cipta, rasa, dan karsa dari setiap siswa. Karena sesungguhnya tujuan pendidikan adalah menuntun semua kodrat yang ada pada anak sehingga mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi - tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. 

Sebagai seorang pendidik saya harus mampu menuntun siswa untuk memiliki karakter profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bertanggung jawab, gotong - royong, bernalar kritis, dan kreatif sesuai bakat minat dan keterampilan masing - masing. 


➤ FUTURE (Penerapan)

Agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, saya harus membenahi cara mengajar saya didalam kelas. Banyak hal yang selama ini belum saya lakukan sebagai upaya membangun pendidikan yang berpusat pada siswa. Selama ini cara mengajar yang saya lakukan lebih banyak berpusat kepada guru. 

Saya juga akan belajar lebih lagi terkait teknologi yang sesuai dengan siswa saya. Sesuai kodrat zaman, guru harus terus mengembangkan diri mengikuti perkembangan teknologi sehingga dapat menemukan ide - ide kreatif yang baru saat mengajar. Dengan mempersiapkan teknologi yang sesuai bagi siswa, tentunya akan sangat mempengaruhi suasana belajar didalam kelas. 

Hal lain yang akan saya lakukan adalah melakukan asesmen bakat minat dan ketertarikan setiap siswa dalam pembelajaran. Melalui langkah ini saya berharap dapat menemukan ragam keterampilan dari setiap siswa, sehingga dapat saling melengkapi dan berkolaborasi satu dengan yang lain. Pada akhirnya saya yakin bahwa saya dapat menuntun setiap siswa yang ada didalam kelas saya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaannya serta menjadi pribadi yang bermanfaat didalam masyarakat. 

Salam dan Bahagia,

Eva Melisda
CGP A10